Mewujudkan Mimpi Lasem sebagai Heritage City

Editor: KRjogja/Gus

Memiliki 'Heritage City" yang mendapat pengakuan resmi dari Unesco mungkin masih menjadi angan-angan para pecinta sejarah dan kota tua di Indonesia. Padahal di Indonesia, banyak sekali terdapat kota-kota lama atau Heritage City yang tIdak kalah cantik dan bersejarah di banding milik tetangga yang berhasil memperoleh pengakuan resmi dari Unesco.

Melacca salah satu heritage city di Malaysia,  bangunan di Mellaca tidak ada yang lebih bagus,bila dibandingkan dengan kota lama Semarang dan Lasem. Namun pemerintah Malaysia menjadikan kota yang 'biasa' saja menjadi 'luarbiasa'. Di kota kecil itu, heritage city tidak mencakup keseluruhan kota, tapi terfokus di kawasan pecinan dan gereja merah, namun nama Melacca secara keseluruhan kota telah melambung menjadi sebuah heritage city. 

Dukungan pemerintah dan pariwisata Malaysia dalam menjadikannya heritage city memang tidak setengah hati. Di penjuru kawasan wisata tersebut, banyak ditemukan petunjuk-petunjuk jalan, cerita di balik suatu bangunan,tempat, membangkitkan pusat belanja dan souvernir, hingga kuliner di pecinan yang ramai. Kota yang bersih dan nyaman untuk berwisata. Sebagai pembanding, bisa membandingkan dengan kota Melaca dengan kota Semarang  dan kenapa-melacca-bisa menjadi world-heritage city dan Kota Semarang tidak.

Kembali ke mimpi memiliki 'heritage city', saat wisatawan berkunjung ke Lasem, kota kecil di kabupaten Rembang, akan didapatkan semangat dari banyak komunitas,baik komunitas seniman,komunitas kiai (ulama) maupun dari LSM salah satu diantaranya dari 'Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (FOKMAS) Lasem,  yang masih memiliki mimpi menjadikan Lasem 'Heritage City' pertama di Indonesia yang di akui Unesco. Mimpi yang sungguh luar biasa, yang semoga saja bisa terlaksana dengan dukungan semua pihak (stake holder) yang ada. Adalah sebuah tempat peribadatan Tionghoa "Klenteng Cu An Kiong, sebagai klenteng tertua di Jawa. (Fokmas)  Lasem ini telah memulai kerja kerasnya, dengan mengumpulkan data sejarah, wisata, kesenian rakyat, dan segala hal yang berkaitan dengan ke-khas-an Lasem seperti batik Lasem yang begitu terkenal, juga menggandeng para ahli di bidangnya, seperti halnya  Sigit Witjaksono (85)  sebagai sesepuh Tionghoa dan pelopor pengrajin batik tulis Lasem.

Adalah Ernantoro (45) Ketua Fokmas Lasem mengaku sudah lama ingin menjadikan Lasem sebagai pusat wisata heritage. " Dan saya yakin mimpi ini juga mimpi warga Lasem dan Kabupaten Rembang pada khususnya yang nota bene ikuy memiliki Lasem sebagai pusat perafaban

Wisata Religi bagi umat muslim di pesujudan dan makam Sunan Bonang di Desa Bonang Kecamatan Lasem. Dari segi arsitektur pun Lasem cukup unik, dengan pecinannya, dengan mudah di temui rumah-rumah  khas Tionghoa dengan tembok-tembok tinggi dan rumah besar di dalamnya yang memiliki atap khas rumah Tionghoa berbentuk ekor burung walet, membuat penasaran para pelancong untuk mengintip ke dalam saat melaluinya. Dan yang paling terkenal adalah Batik Lasem, batik yang memiliki ke khas-an warna merah cerah ini yang di kenal dengan warna 'merah darah ayam' hanya dapat di temukan di Lasem, dan bila tertarik, kita juga dapat melihat langsung pembatikan, mulai dari sekelompok ibu yang sibuk membatik dengan cantingnya hingga pewarnaan dengan warna-warna alami. Bahkan Fokmas Lasem juga berhasil menghidupkan kembali kesenian rakyat yang telah hampir 50 tahun mati suri, dan beberapa bulan silam untuk pertama kalinya Kesenian Rakyat Lasem Laesan kembali di pertunjukkan secara utuh. 

Saat ini hasil kerjakeras Fokmas Lasem telah mulai membuahkan hasil, terbukti dari mulai dikenalnya Lasem dan ramainya wisata Lasem setahun terakhir ini. Juga banyak liputan yang dilakukan media menceritakan Lasem yang di kenal dengan Tiongkok Kecil di Jawa. Untuk mewujudkan mimpi Lasem menjadi "Heritage City" memang berat dan tidak mudah, masih banyak pekerjaan rumah  yang harus dibenahi dan dilakukan, tapi setidaknya FOKMAS Lasem telah memulai, sedikit demi sedikit, semoga pemerintah daerah turut serta memberikan dukungannya. semoga terwujud Lasem Heritage City pertama di Indonesia Pemerintah Kabupaten Rembang sendiri mengakui jika kota tua Lasem sudah ditetapkan sebagai kota wisata,kota budaya karena memiliki sejarah yang panjang. " Dan untuk mewujudkan Lasem sebagai heritage city tentu kami butuh dukungan stake holder terkait,termasuk para ahli sejarah,warga Lasem termasuk para tokoh Tionghoa,ulama dan pemerintah di Provinsi Jawa Tengah maupun di tingkat pusat," jelas Bupati Rembang Abdul Hafid.

Tokoh ulama di Lasem yang paling getol menyuarakan Lasem sebagai kota pusaka dan perlu anggaran yang cukup adalah KH Zaim Achmad Ma`shoem ( Gus Zaim)-pengasuh pondok pesantren Kauman yang berdomilisi di Desa Karangturi,Lasem (kampung Pecinan Lasem). " Lasem adalah produk akulturasi budaya Arab-Tinghoa-Jawa dan memiliki sejarah yang panjang. Dan harap diingat kaum imigran Tionghoa mendaratkan perahu pertama kalinya di bumi nusantara ini ya di Lasem dan itu dibuktikan jika Laksamana Cheng Ho pernah mendarat di Lasem," jelas Gus Zaim. 

Sigit Wicaksana sendiri sebagai sesepuh Tinghoa di Lasem mengakui peran Gus Zaim dan para ulama untuk tetap menjaga hubungan harmonis antara ulama dengan Tionghoa di Lasem sekaligus "menjual" Lasem ke kancah nasional,. Tokoh NU Lasem ini kebetulan didaulat sebagai Ketua Silaturahmi Pondok Pesantren Se Indonesia. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sendiri dalam beberapa kali kunjungannya ke Lasem,selalu mendongkrak para tokoh Lasem untuk terus menjaga dan melestarikan kekayaan peradaban dan kebudayaan Lasem. (agus sutomo). 

BERITA REKOMENDASI