Pencurian Kayu Marak, Wacana Senpi Bagi Polhut Mendesak

Editor: KRjogja/Gus

REMBANG (KRjogja.com) – Perum Perhutani yang merupakan BUMN kian hari mendapat tantangan yang semakin berat akibat kian menipisnya potensi hutan sementara kerusakan dan pencurian kayu masih menjadi pekerjaan rumah yang tiada kunjung berhenti. Di Kabupaten Rembang terdapat dua KPH (kesatuan pemangkuan hutan) masing-masing KPH Mantingan dan KPH Kebonharjo. Dan dari kedua KPH tersebut angka pencurian kayu masih menjadi trend,bahkan di Kabupaten Blora mulai ditiru yaitu pencurian kayu jati yang melibatkan puluhan orang dengan alat gergaji (senso) serta alat angkut.

Di KPH Mantingan setiap tahunnya terdapat sekitar 30 kasus pencurian kayu jati,dan dua BKPH,masing masing BKPH Ngiri dan BKPH Kalinanas sejak reformasi bergulir menempati angka tertinggi perihal pencurian kayu. Kedua BKPH tersebut merupakan sarang "penyamun" yang biasa disebut "segitiga emas" karena berada di perlintasan (perbatasan) antara wilayah Kabupaten Rembang-Kabupaten Pati dan Kabupaten Blora.

Adm/Kepala KPH Mantingan Toni Kuspujo kepada wartawan Kamis kemarin mengakui jika di wilayahnya setiap tahun masih terkendala dengan pencurian kayu/pembalakan liar. Oleh karenanya,pihaknya sangat setuju jika anggota Polhut (polisi hutan,Red) kembali diperkenankan membawa senjata api,mengingat intensitas perusakan hutan setiap tahunnya meningkat.

" Setiap tahun terjadi 30 kasus dengan estimasi kerugian mencapai Rp 200 juta,mudah mudahan ke depan bisa kita tekan," kata Toni. Berbagai pendekatan juga terus dilakukan untuk warga tepi hutan termasuk melibatkan aparat Polres dan tokoh masyarakat setempat.

Untuk kawasan KPH Kebonharjo angka pencurian tidak termasuk menonjol,namun BHPK Tawaran dan sekitarnya ( kawasan timur) masih menjadi incaran pencuri,terlebih saat ini KPH Kebonharjo dan KPH Cepu manjadi andalan Perhutani Unit I Jawa Tengah karena masih memiliki kayu jati kualitas ekspor. (ags)
    

BERITA REKOMENDASI