Perda Cagar Budaya ‘Setengah Hati’, Bangunan Kuno Lasem Terancam

Editor: KRjogja/Gus

Berjalan menyusuri lorong kota tua Lasem,di Kabupaten Rembang ibarat berjalan di masa lampau. Tembok-tembok china yang sudah memudar adalah saksi bisu, betapa seratus lebih rumah kuno berarsitektur Tionghoa masih bertebaran di Lasem. Namun seiring berjalannya waktu, rumah kuno itu satu persatu dijual oleh pemiliknya. Para pemilik rumah kuno itu merupakan generasi ketiga, keempat dari kakek moyangnya.

Adalah Gunawan (40) yang kebetulan bertemu KR di Lasem kemarin. Ia bersama keluarga sudah sepuluh tahun berada di Surabaya,karena tuntutan pekerjaan. Beberapa saudaranya juga menikah dan bekerja di kota besar. “Awalnya paman dan famili yang lain melarang rumah peninggalan itu dijual. Tertapi karena yang tua-tua sudah meningal,sehingga diputuskan untuk dijual,” kata Gunawan. Pengusaha bidang properti ini kembali menjelaskan, masih banyak famili di Lasem sehingga disamping bersilaturahmi dengan famili juga berziarah ke makam leluhur. Di Lasem terdapat makam kuno (gunung Bugel) yang berada di lintas Jalan Lasem-Pancur, disebuah perbukitan.

Pemerintah Kabupaten Rembang sendiri sudah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 tahun 2014 tentang benda cagar budaya (termasuk diantaranya rumah kuno di kota tua Lasem dan sekitarnya) Bahkan penelitian diskriptik analisis UU Nomor 11 tahun 2010 tentang keberadaan benda cagar budaya. Sehingga keberadaan rumah-rumah kuno di Lasem perlu penetapan hukum.

Namun setelah Perda diterbitkan hingga tulisan ini dikirim ke redaksi kondisinya masih stagnan. “Ada memang beberapa rumah kuno Tionghoa yang ditata dengan bagus untuk home stay, atau resto, tapi justru banyak pula yang diiklankan untuk dijual, karena merawat rumah kuno perlu anggaran yang cukup besar,” kata KH Zaim Achmad Mas`shoem (Gus Zaim) kepada penulis.

Gus Zaim sendiri kediaman yang ditempati adalah rumah kuno Tionghoa di desa Karangturi, Lasem. Bangunan kuno masih dipertahankan, sementara bangunan baru yang mengelilingi dipakai sebagai mess/sarana mengaji para santri.

Gus Zaim dikenal sebagai tokoh pluralis di kotab Lasem. Sehingga karena masih ada hubungan famili dengan KH Abdurahman Wachid (Gus Dur) sosok Gus Zaim dianggap sebagai jajaran kiai pluralis. Dia juga sangat dekat dengan tokoh-tokoh Tionghoa baik yang mukim di Lasem ataupun yang perantauan di berbagai kota tetapi asli Lasem. Adalah Ernantoro (50) Ketua ormas masyarakat peduli lasem (Fokmas-Lasem) berharap, munculnya Perda tentang cagar budaya,dibarengi juga dengan dukungan anggaran, sehingga bagi pemilik yang tidak mampu, ada bantuan perawatan.

Sekda Rembang Drs Subhakti yang kebetulan putra daerah Lasem mengakui fenomena banyaknya rumah kuno arsiterktur Tionghoa yang ditawarkan. “Pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan anggaran, juga tidak bisa menghalangi penjualan rumah kuno karena merupakan asset keluarga atau sifatnya pribadi. (agus sutomo)

Sebuah lubang guna membawa candu (opium) yang berada di rumah Tionghoa “ Lawang Ombo”-Lasem. Dari lubang ini candu dibawa ke tepi sungai Bagan yang hanya berjarak sekitar 15 meter (menembus dibawah jalan desa Lasem-Dasun). Di era tahun 1800-an perdagangan candu antara pedagang china-Belanda marak. Lasem sebagai kota kecil sudah dikenal para saudagar candu. (foto/KR/Istimewa).

BERITA REKOMENDASI