Petambak Tayu Beralih Budidaya Tumpangsari

Editor: Ivan Aditya

PATI (KRjogja.com) – Setelah selalu menderita kerugian akibat anjloknya harga jual ikan bandeng, kini petani tambak di wilayah Kecamatan Tayu mengalihkan budidaya ke sistem tumpangsari dengan memelihara ikan nila salin dengan udang windu di dalam satu petak tambak. Budidaya ikan nila salin lebih mudah, murah dan waktu panen lebih cepat dibandingkan dengan ikan nila biasa maupun ikan bandeng.

Menurut petani tambak Desa Sambiroto Tayu ini, dengan luasan tambak 0,5 hektar dan beli benur serta pakan Rp 6 juta, maka dalam kurun tiga bulan saja sudah bisa mendapat keuntungan dari sistem budidaya tumpangsari ikan. “Lendir ikan nila salin ternyata bisa menjadi vaksin untuk udang. Jadi ada dua keuntungan sekaligus” kata Mamik Khudori (52) kepada KRjogja.com, Selasa (29/11/2016).

Ketua Kelompok Tayu Makmur Sejahtera, Mustamir mengungkapkan cara budidaya ikan nila salin. Diawali penyiapan lahan tambak yang harus dikeringkan, ini dimaksudkan untuk menurunkan tingkat residu. Lalu pemilihan bibit bibit ikan yang rata dan pemberian pupuk organik, guna memunculkan jasad renik seperti plankton yang menjadi pakan alami ikan.

Dengan perawatan yang cermat maka pada bulan ke tiga, petani di Tayu sudah bisa memanen ikan nila salin dan sekaligus udang windu. Harga jual eceran ikan nila salin bisa mencapai Rp 21 ribu dan udang windu Rp 70 ribu sehingga petani tambak mendapat keuntungan. (Cuk)

BERITA REKOMENDASI