Polres Rembang Minta Keterangan 4 Wartawan

Editor: KRjogja/Gus

REMBANG (KRjogja.com) – Sebanyak empat personal wartawan di Kabupaten Rembang Selasa (23/8) akhirnya diminta keterangannya di ruang penyidik reskrim Polres Rembang terkait penghalangan,penghadangan dan perampasan alat kerja wartawan di RSU Dr Soetrasno Rembang beberapa hari lalu saat akan meliput penderita luka bakar terkait kecelakaan kerja di PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) Sluke, Rembang.

Keempat pekerja pers yang diminta keterangannya itu masing-masing Jamal Abdul Garhan ( Ketua PWI Rembang yang juga wartawan Suara Merdeka), Sarman Wibowo, Heru Budi Santoso dan Marijan. Bahkan saat dimintai keterangan oleh penyidik, Sekretaris PWI Cabang Jawa Tengah H Isdiyanto ikut mendampingi.

Sarman Wibowo kepada media mengungkapkan dirinya ditanya proses awal terjadinya perkara hingga berujung kepada perampasan alat kerja wartawan. “ Saya ceritakan komplit mulai dari awal, bagaimana teman teman wartawan dihadang, diancam bahkan direbut alat kelengkapan kerja wartawan,” jelas Sarman Wibowo yang juga wartawan Cakra TV Semarang ini.

Sementara itu Sekretaris PWI Cabang Jawa Tengah H Isdiyanto yang ikut mendampingi para jurnalis yang diminta keterangannya menegaskan sikap PWI Jawa Tengah sudah tegas dan final agar kasus tersebut diproses sesuai hukum.

 “ PWI Cabang Jawa Tengah sudah melakukan rapat dan menelorkan keputusan, bahwa apa yang dilakukan oknum karyawan PLTU mulai dari menghalangi kerja wartawan, penghadangan, intimidasi bahkan perampasan alat kelengkapan wartawan merupakan tindak pidana. Baik KUHP maupun UU Pokok Pers Nomor 40 tahun 1999 sudah diatur dengan jelas. Memang kita akui ada mediasi antara pihak PLTU dan Polres agar ditempuh jalan damai, tetapi PWI dengan tegas menolaknya. Sebab,jangan sampai terjadi lagi profesi wartawan terlecehkan begitu saja dimasa mendatang,” jelas Isdiyanto yang juga Kepala Biro KR Semarang ini.  

Sebelumnya saat terjadi mediasi, General Manajer PLTU Sluke, Rembang Yudhi Bhagaskara membeberkan secara rinci, penyebab maupun penanganan pasca kejadian. Ia menceritakan waktu itu 4 orang pekerja Bagian Pemeliharaan akan memperbaiki kebocoran pipa pada tanggal 18/8 lalu. Berbagai prosedur pengamanan sudah dijalankan, termasuk memastikan tidak ada tekanan di dalamnya. Ternyata masih menyimpan sisa air yang kemudian mengenai tubuh korban. Ia mengibaratkan seperti radioator mobil sangat panas, begitu tutupnya dibuka, langsung muncul letupan.

Kapolres Rembang AKBP Sugiarto SIK berjanji akan memproses kasus tersebut hingga ke pengadilan. “Kita tetep menghormati teman teman wartawan, kalau memang upaya damai dari PLTU ditolak ya tetap kita proses sesuai hukum yang berlaku,” jelas Kapolres. (Ags)

 

BERITA REKOMENDASI