Siswi SMK di Rembang Ciptakan Obat Nyamuk dari Buah Kawista

Editor: Ivan Aditya

REMBANG, KRJOGJA.com – Buah kawis atau kawista yang merupakan buah khas dari Kabupaten Rembang ternyata telah menjadi ispirasi tiga orang siswi dari wilayah ini untuk melakukan penelitian. Belum lama ini tiga siswi dari SMK Avicena Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang berhasil membuat obat nyamuk elektrik yang terbuat dari ekstrak kulit dan buah Kawis.

Karya tersebut akhirnya sukses menjadi juara I dalam Lomba Artikel Ilmiah Remaja tingkat SMK Kesehatan se Jawa yang baru selesai digelar oleh Universitas Muhammadiyah Semarang. Ketiga siswi SMK Avicena tersebut yakni Mitha Alviani siswi kelas X dari Kecamatan Sedan Rembang, Intan Afrida Zulfami siswi kelas XI dari Desa Pasedan Kecamatan Bulu dan Zahrotun Nafisah siswi kelas XII warga Desa Sumbergirang Kecamatan Lasem.

Zahrotun Nafisah (17) berkisah sebelumnya melakukan penelitian sejumlah tanaman, mulai daun kemangi, daun luntas, hingga kulit durian. Namun akhirnya mereka sepakat meneliti buah kawis, karena merupakan buah khas Kabupaten Rembang.

Jika umumnya buah kawis/kawista digunakan untuk minuman, kali ini kulit dan isi buahnya diolah menjadi anti nyamuk. Bentuknya berupa lempengan-lempengan kecil berukuran 4 x 2 centi meter.

Dari 10 kali percobaan, ternyata 6 kali berhasil mengusir dan membunuh nyamuk. “Hal itu karena kawis memiliki zat kandungan aktif yang dapat merusak sistem pernafasan nyamuk," terang Nafisah.

Kalau dipakai sehari-hari menurutnya Kawis aman untuk anti nyamuk, mengingat berbahan alami tanpa campuran zat kimia. Setelah menjadi juara I, Zahrotun bersama rekan-rekannya semakin tertantang membuat penelitian lain yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita mudah cari buah Kawis, karena banyak tumbuh di sekitar lingkungan warga. Selain penelitian, juga untuk mengenalkan kawis Rembang kepada dunia luar. Banyak yang belum tahu kan, zat di dalam kawis sangat tidak disukai nyamuk. Setelah kami dapat juara I, seneng sekali dan rasa capek kemarin terbayar. Yang pasti kami tidak akan berhenti sampai di sini,” tambah Zahrotun.

Sementara itu guru pembibing di SMK Avicena Lasem, Dyah Afi Nurlaeli mengatakan, dirinya harus bisa membagi waktu, selama mendampingi anak-anak, agar aktivitas lain tidak terganggu. Ketika penelitian, kendala yang paling terasa adalah cuaca sering hujan.

Padahal untuk pengeringan bahan dan sample membutuhkan sinar matahari yang cukup. Kalau menggunakan alat pemanas oven, dikhawatirkan merusak zat aktif buah kawis. Selain itu pihaknya juga kesulitan menangkap nyamuk hidup-hidup untuk obyek penelitian. Beruntung, semua kendala tersebut dapat teratasi dan tim dari sekolahnya menyabet juara I mengalahkan puluhan sekolah lain.

“Fokus, semangat dan manajemen waktu yang efektif, mungkin itu tips keberhasilan kami. Kemarin memang sempat muncul kendala cuaca. Tapi kita menghindari penggunaan oven untuk mengeringkan bahan. Ketika panas, bahan baku harus segera dijemur. Yang lucu, bagaimana mencari nyamuk dalam kondisi hidup.Namun setelah dilakukan dengan berbagai cara, dapat juga nyamuknya, dan tentu masih dalam kondisi hidup,“ ujar wanita yang akrab disapa Vivi ini.

Obat nyamuk elektrik dari ekstrak kulit dan buah kawis hasil k arya siswi SMK Avicena Lasem, Rembang sementara baru dimanfaatkan untuk kalangan terbatas. Mereka belum berencana membuat dalam skala besar dan dipasarkan secara luas, karena harus melewati sejumlah tahapan. "Namun ke depan angan-angan memasarkan tetap ada, hal itu menjadi program jangka panjang sekolah,dan upaya mendapatkan hak paten," tambah Afi Nurlaeli. (Ags)

BERITA REKOMENDASI