Teknik Produksi Garam di Rembang Masih Tertinggal

Editor: Ivan Aditya

REMBANG, KRJOGJA.com – Ratusan petani garam saat musim kemarau seperti sekarang ini terus menggenjot produksi,menyusul terjadinya kelangkaan garam di tanah air. Namun sayangnya banyak pihak yang menyayangkan teknik yang digunakan oleh petani garam di kawasan ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan petani garam di berbagai daerah. Padahal Kabupaten Rembang sangat potensial sebagai produsen garam tingkat Jawa Tengah sekaligus salah satu penyangga garam nasional.

Adapun teknik pembuatan garam dengan rumah prisma dilakukan dengan menggunakan bangunan dari bambu berbentuk prisma berpenutup plastik transparan. Sebagian petani mengaku belum tahu mengenai teknik itu dan sebagian lainnya menilai teknik pembuatan dengan rumah prisma karena dianggap tidak sesuai dengan kondisi di Kabupaten Rembang.

Sutrisno (40) salah satu petani garam di Desa Punjulharjo Kecamatan Rembang mengaku hanya tahu teknik geoisolator, yaitu dengan menggunakan plastik geomembran untuk melapisi mejanan tanah pada tambak. Para petani tambak rata-rata belum tahu (rumah prisma).

“Mereka tahunya ya yang pakai plastik itu, yang ditaruh di bawah untuk menutupi mejanan tanah. Tapi saya nggak pakai itu (geoisolator), pakai tanah biasa,” katanya, Rabu (06/09/2017).

Sementara itu Nawawi (45), pengusaha garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori menyebutkan, pembuatan garam dengan menggunakan teknik rumah prisma tidak sesuai diterapkan oleh petani garam di Rembang. Menurutnya, kondisi angin di Rembang terlalu kencang dan lokasi tambak petani kebanyakan terlalu rendah.

Dijelaskan, teknik rumah prisma memerlukan kondisi lingkungan yang kecepatan anginnya tidak terlalu kencang dan lokasi tambaknya berada dalam posisi yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, sehingga apabila hujan airnya tidak bisa masuk. “Sisi positifnya kalau menggunakan rumah prisma itu suhunya bisa tinggi, kalau untuk garam prosesnya bagus, cepat,” jelasnya.

Ditambahkan, garam yang dihasilkan dengan menggunakan teknik rumah prisma jauh lebih bagus dan putih, karena bebas dari debu dan kadar NaCl-nya juga jauh lebih tinggi sekitar 95 bahkan bisa lebih. Nawawi menambahkan, garam hasil rumah prisma cocok untuk kebutuhan industri.

Menurut Nawawi, petani garam yang menggunakan geoisolator baru sebagian, akibat minimnya pelatihan dari Pemerintah. Padahal apabila petani mampu menggunakan teknik geoisolator secara maksimal maka hasilnya akan menjadi bagus dan harganya masuk pada golongan kualitas satu.

Terpisah Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rembang Ir Suparman mengakui berbagai percobaan telah dilakukan oleh Departemen Perindustrian Pusat termasuk teknik geomembran dan rumah prisma, "Mungkin mereka sudah terbiasa dengan teknik tradisional. Tetapi ke depan akan terus kita galakkan berbagai teknik guna peningkatan kualitas dan kuantitas," jelas Suparman. (Ags)

BERITA REKOMENDASI