13 Sektor Industri Kreatif Masih Belum Tersentuh

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG (KRjogja.com) – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengatakan, 13 sektor industri kreatif masih belum tersentuh. Dari 16 sektor ekonomi kreatif, yang sudah tergarap secara maksimal dari tiga sektor, yaitu Kuliner, Fashion, dan Handycraft.

Fikri berharap kalangan muda untuk bisa mengembangkan start up berbasis industri Kreatif yang belum tersentuh secara maksimal tersebut, seperti musik, sinematografi, pembuatan aplikasi, Desain Komunikasi Visual dan beberapa sektor lainnya.

Pengembangan start up berbasis industri kreatif, Menurut Fikri, merupakan salah satu harapan masyarakat Indonesia untuk membantu menaikkan taraf ekonomi masyarakat, karena ke depan nantinya tidak menambah angka jumlah pencari kerja tetapi membuka kesempatan kerja untuk masyarakat. Pengembangan ekonomi kreatif khususnya oleh kalangan muda diharapkan bisa memasukkan budaya khas daerah dengan keinginan pasar, sehingga tidak hanya sebagai ajang bisnis tetapi juga melestarikan kearifan lokal untuk go internasional.

"Seperti Tegal, bagaimana kita mengembalikan nama daerah ini menjadi “Jepangnya” nya Indonesia. Di Tegal banyak Industri besi yang sudah mendunia, buat tuh Videonya. Design interior selama ini kan yang rame kayu dan polimer, nah bagaimana kalau dengan memanfaatkan besi," tutur Fikri.

Fikri juga mengungkapkan Tegal selain terkenal dengan warung tegal (wartegnya), juga sangat terkenal dengan bahasa ngapak-ngapak, kenapa tidak membuat musik dan video dengan memanfaatkan bahasa ngapak.

Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)     Indi Kurniani Noorsy mengatakan, ekonomi kreatif merupakan wadah bagi pemuda untuk berkreasi dan berkreatifitas. Untuk menuju ke sana, terlebih dulu harus disiapkan direktori dan pemahaman akan usaha yang akan dibuat dan dikembangkan, karena hal itu merupakan dasar sebelum bersentuhan dengan pasar dan masyarakat.

Yang menjadi problem selama ini menurut indi, salah satunya yang terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Untuk itu Bekraf menyediakan pelayanan untuk memberikan hak paten produk Start Up yang dikembangkan masyarakat melalui program Bekraf for Pre-Startup (Bek-Up). Melalui program ini, Bekraf membantu para pelaku ekonomi kreatif dalam mempersiapkan masa pre-startup sehingga bisa meningkatkan probabilitas keberhasilan pada tahap awal pembentukannya. (Bdi)

BERITA REKOMENDASI