38.011 Tenaga Budaya Terdampak Covid-19, Ekosistem Seni Perlu Didesain Ulang

SEMARANG,KRJOGJA.com- Selama masa pandemi, ekosistem seni harus didesain ulang sebagai sesuatu yang terintegrasi penuh ke platform digital, bukan hanya distribusi tetapi juga produksi dan pelatihannya. Selain itu, konsep pendidikan seni berbasis kelas dan tatap muka ke pendidikan seni berbasis jaringan interaksi digital antar-pelaku dan antar-institusi juga mesti segera diupayakan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid PhD ketika menjadi narasumber Webinar Kebudayaan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes), Kamis (6/8/2020) menuturkan, kini pasar seni melesu karena tidak ada orang berani investasi lukisan, menonton konser dan pemutaran film, dan lain-lain, sehingga kerja magang yang biasanya dilakukan mahasiswa seni menjadi lenyap.

“Sebagian besar cabang seni, seperti seni pertunjukan, tari, film, dan musik, mensyaratkan kontak fisik atau setidaknya kedekatan fisik. Program studi seni mesti mengubah orientasinya akibat Covid-19,” ujar Hilmar Farid dalam webinar bertema “Fenomena dan Tantangan Bahasa dan Seni Pascapandemi” itu.

Hilmar menyatakan pihaknya telah meluncurkan survei pendataan tenaga budaya yang terdampak secara ekonomi oleh Covid-19. Tercatat 38.011 tenaga budaya terdampak, di mana  83,37 persen di antaranya tidak memiliki pekerjaan selain bidang kesenian dan 80,08 persen pekerja cagar budaya dan permuseuman tidak memiliki pekerjaan selain bidang tersebut.

BERITA REKOMENDASI