4 Bulan Nganggur, Pekerja Seni Semarang Ngadu ke Pemkot

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG KRJogja.com – Para pekerja seni, pranata cara, persewaan sound sistem, persewaan tratak dan jasa pemotretan serta shotting video, Senin (6/7/2020) menggelar rapat di Pakintelan Gunungpati Semarang membahas dampak Covid-19 yang telah mematikan perekonomian mereka selama hampir 4 bulan. Mereka pun membentuk Paguyuban Pekerja Seni Semarang (PPSS).

“Pandemi Covid-19 membuat beberapa kegiatan hajatan yang menjadi lahan perekonomian kami ditiadakan karena aturan pencegahan. Karena itu selama pandemi usaha jasa kami mandeg dan mengakibatkan perekonomian keluarga hancur. Dengan berkumpulnya para pekerja seni dan jasa organizer ini kita mencoba untuk mencari jalan terbaik menghidupkan perekonomian dengan mengedepankan protokol keamanan dan kesehatan,” ungkap Hadi Purnomo, Ketua PPSS, Senin (6/7/2020).

Dalam pertemuan yang melibatkan perwakilan beberapa bidang usaha jasa, seperti MC atau pranatacara, persewaan sound sistem, penyanyi, musisi, fotografer dan videografer serta event organizer membicarakan upaya menembus birokrasi, dalam hal ini Pemerintah Kota Semarang untuk mencari jalan keluar agar bisa dibuka kembali keleluasaan menyelenggarakan hajatan yang tentu akan mengembalikan lahan perekonomian pekerja seni dan event organizer yang terlibat.

“Sekarang ini Pemkot Semarang telah membuka hotel, cafe dan tempat wisata, oleh karena itu kami pun berharap juga bisa memberi keleluasaan bagi masyarakat untuk menyelenggarakan hajatan, meski diatur dengan standar protokol kesehatan. Kami pun sudah sepakat untuk menyesuaikan dengan protokol kesehatan,” ujar Adi Mas Indro, Sekretaris PPSS.

BERITA REKOMENDASI