Ada Covid-19, Tradisi Santap Bubur India Warga Khoja Tetap Jalan

Selama bulan Ramadan ini, Masjid Jami Pekojan tidak mengurangi tradisi, meski harus menyesuaikan dengan instruksi pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran COVID-19. Pembagian dan cara santap buka bersama pun diatur dengan mengacu Sosial Distancing. Bubur India disajikan sebelum buka dengan cara ditata di lantai dengan jarak 1 meter antar mangkok. Selain dijadikan bubur India, juga ada segelas sari kacang hijau, sajian kurma serta buah semangka.

Bubur India menurut Amat Ali dibuat berbahan beras, santan, sayuran dan rempah-rempah. Yang membuat cita rasanya khas karena dalam olahan bubur terdapat sumsum tukang paha sapi. “Adanya kaldu sumsum sapi ini membuat rasa bubur lezat. Bahkan orang makan satu mangkuk kadang masih kekurangan dan ingin menambah,” ungkap Amat Ali.

Memasak Bubur India ini dimulai setelah salat Dhuhur dan baru selesai setelah Ashar. “Sebelum salat Dhuhur kami sudah siapkan semuanya dan memasak air dalam satu belanga terbuat dari tembaga. Baru setelah selesai salat Dhuhur, bumbu-bumbu berikut beras kami masukkan dan olah hingga menjelang waktu Ashar. Sekitar pukul 5 sore semua sudah disajikan di tiap-tiap mangkoh yang akan dihidangkan bagi mereka yang ingin buka puasa,” ujar Amat Ali.

Selama proses memasak, ternyata selalu diiringi lantunan ayat-ayat suci Al Quran, meski hanya lewat rekaman MP3. Hal ini menurut Amat Ali sebagai ikhtiar dalam bulan Ramadan ini semua bisa diberi berkah kebaikan. “Dalam menjalani pekerjaan apapun, termasuk hanya memasak bubur bila mendengar lantunan ayat suci Al Quran rasanya akan tenang dan ikhlas. Kita semua berharap bisa terhindar dari cobaan dan diberi keselamatan oleh Allah SWT. Semoga dengan ikhtiar saya yang hanya membuat bubur ini bisa menolong dan membantu seluruh jamaah Masjid Jami Pekojan,” kata Amat Ali.

BERITA REKOMENDASI