Ada Indikasi Bisnis Seragam, Ganjar Pranowo Diminta Turun Tangan

Editor: Ary B Prass

 

SEMARANG KRJogja.com – Meski proses belajar mengajar sekolah belum dilakukan secara tatap muka, para siswa baru kini sudah harus melengkapi seragam sekolah dan wajib membeli. Sejumlah orang tua siswa banyak yang mengeluhkan karena pembelian banyak dilakukan tidak transparan dengan mengumumkannya secara terbuka.
Adhi Siswanto, salah satu orang tua murid yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Organisasi Masyarakat RI (Forkomas RI) mengaku juga kaget ketika anaknya yang baru saja duduk di bangku SMP Negeri di Semarang disodori agar membeli seragam saat mengambil buku paket. “Harganya Rp 1,4 juta, sehingga kami pun kelabakan karena tidak persiapan dan harus kembali untuk mengambil uang. Kondisi ini tentu akan membuat orang tua kelabakan bila didadak tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Apalagi saat Pandemi Covid dimana kondisi perekonomian masih lesu,” tutur Adhi Siswanto.
Menurutnya harga paket seragam tidak logis dengan bahan yang diterima. Seperti halnya yang harus dibayar Rp 1,4 juta mendapatkan 4 stel bahan kain. “Ini berarti satu stelnya Rp 350 ribu. Apakah logis harga kain katakan lah 4 meter mencapai Rp 350 ribu. Kualitasnya pun saya kira tidak begitu seimbang dengan harganya,” ungkap Adhi.
\
Oleh karena itu, Adhi Siswanto meminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo turun tangan untuk mencegah indikasi bisnis pengadaan seragam sekolah di tengah Pandemi Covid.
Adhi dengan Forkomas RI-nya juga membuka layanan pengaduan dari masyarakat. Dirinya juga akan menurunkan tim untuk mengumpulkan data dan fakta guna membantu masyarakat yang menjadi korban bisnis seragam.
“Segera kami tindak lanjuti dengan melaporkan ke Gubernur dan Kepala Dinas Pendidikan atas temuan sekolah yang menjual seragam di atas harga yang logis dan cenderung mencari keuntungan. Kami sudah mendapatkan data, harga bahan seragam standar di pasaran per meter kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu. Sedangkan satu stelnya paling mahal Rp 250 ribu.

BERITA REKOMENDASI