Balitbang Agama Semarang Tunjuk Unwahas Pimpin Project MAGID

Editor: Agus Sigit

SEMARANG,KRJOGJA.com – Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) ditunjuk oleh Balai Litbang Agama Semarang untuk menjadi koordinator perancangan MAGIS (Madrasah Geographic Information System) di Provinsi Daerah Istimewa Yogayakarta.

Hal tersebut sejalan dengan meningkatnya rasa percaya masyarakat kepada Universitas Wahid Hasyim.

Dosen Fakultas Teknik Prodi Teknik Informatika yang juga Kabag UPT TIK Unwahas Rony Wijanarko SKom MKom mengatakan jika nantinya MAGIS dapat digunakan dalam pemetaan madrasah sehingga lebih mudah dalam melihat jumlah, sebaran, dan kondisi terkini dari madrasah tersebut.

Proses pengerjaan project tersebut ditargetkan rampung November 2021. Untuk mensukseskan project tersebut ada beberapa rangkaian acara yang telah dilaksanakan seperti seminar dan juga kerjasama dengan pihak lain. Kegiatan Seminar MAGIS sudah dilaksanakan belum lama ini di Yogyakarta. Hadir sebagai narasumber Dr Samidi MSI (Kepala Balai Litbang Agama Semarang), Umi Muzayanah SSi MPd (Peneliti Balai Litbang Agama Semarang) , dan Rony Wijanarko SKom MKom (Unwahas). Sedangkan peserta dalam kegiatan ini berasal dari Kanwil Kemenag DIY, Kanwil Kemenag Jateng, Kemenag Kab/Kota di wilayah DIY, Disdikpora DIY, dan kepala/guru madrasah.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Balai Litbang Agama Semarang Dr Samidi MSI mengatakan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama memiliki peran yang sangat strategis sebagai penyedia data hasil-hasil penelitian dan pengembangan.

Hasil penelitian (riset) yang dilakukan menjadi landasan bagi penyusunan berbagai regulasi di lingkungan Kementerian Agama. Salah satu data yang disediakan adalah data yang terkait dengan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Riset tentang madrasah sudah banyak dilakukan oleh Balai Litbang Agama Semarang yang memiliki wilayah kerja 9 provinsi (Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan). Namun hasil-hasil riset tersebut belum menyentuh pada database madrasah yang ada.

Database madrasah terpusat di Direktorat Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) yang berupa data EMIS (Education Management Information System). Data EMIS ini menyediakan data lapangan yang bersumber dari data madrasah dan guru pendidikan agama Islam. Keberadaan data EMIS sebagai data awal dan data lapangan sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan di lingkungan Kementerian Agama.

Selama ini pengelolaan data EMIS masih memiliki beberapa kelemahan, di antaranya kemampuan SDM, proses pendataan hanya dilakukan pada waktu tertentu sehingga data tidak update. Tidak hanya itu, pengelolaan EMIS juga terkendala oleh keterlambatan data dari lembaga pendidikan, fasilitas TIK yang kurang memadai, dan format pendataan yang berubah-ubah.

Menyikapi kelemahan dan kendala yang ada pada aplikasi EMIS, Balai Litbang Agama Semarang mengembangkan data madrasah dalam Madrasah Geographic Information System (MAGIS), pelayanan kepada masyarakat di bidang data dan hasil penelitian dan pengembangan agama.

Rony Wijanarko juga menjelaskan jika pada tahap awal, pengembangan aplikasi MAGIS dilakukan di wilayah Kanwil Kementerian Provinsi D.I. Yogyakarta. Selain sebagai salah satu wilayah kerja Balai Litbang Agama Semarang, pemilihan provinsi DIY sebagai sasaran MAGIS didasarkan pada alasan DIY memiliki wilayah yang tidak terlalu luas sehingga mampu dijangkau dalam kurun waktu yang relatif singkat. Melalui kerjasama dengan Kanwil Kementerian Agama Provinsi DIY, pengembangan MAGIS mampu menjangkau 363 lembaga, terdiri dari 186 madrasah ibtidaiyah (MI), 116 madrasah tsanawiyah (MTs), dan 61 madrasah aliyah (MA).

Setelah suskes menjangkau madrasah di wilayah DIY, dalam waktu dekat pengembangan MAGIS akan diperluas ke wilayah Bali dan NTT. Dua wilayah tersebut masih berada di wilayah kerja Balai Litbang Agama Semarang. Pengembangan MAGIS pada tahap kedua ini akan menjangkau 503 madrasah (MI, MTs, dan MA), dengan rincian 170 madrasah di Bali dan 333 madrasah di NTT. Harapan ke depan, pengembangan MAGIS dapat mensupport data EMIS sehingga tercapai one data for all, dimana hanya ada satu sistem aplikasi yang dapat mengakomodir kebutuhan data dan informasi yang berkaitan dengan kelembagaan madrasah dan pendidikan Islam secara umum. (sgi)

Kegiatan seminar MAGIS di Yogya belum lama ini (foto Ist)

 

BERITA REKOMENDASI