Berikut Kronologi Kekerasan Pada Wartawan di Banyumas

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG (KRjogja.com) – Menurut Ade Oesman, laporan yang diterima PWI Jateng dari PWI Banyumas terkait krnologi kejadian menyebutkan, sejak pukul 10.00 WIB, para wartawan media cetak, online, televisi, dan radio Banyumas meliput  aksi Komunitas Selamatkan Slamet, yang dimulai dari Kampus IAIN Purwokerto hingga Alun-alun Purwokerto, tepatnya di depan pintu gerbang Pendapa Sipanji atau Kantor Bupati Banyumas.

Ratusan orang dari berbagai elemen di dalam komunitas tersebut meminta agar Bupati Achmad Husein membuat rekomendasi kepada Presiden RI Joko Widodo untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Baturraden.

Pembangunan itu dinilai menyebabkan kerusakan lingkungan, yang akan berdampak kepada warga, terutama terkait sumber air bersih dari hutan Gunung Slamet. Beberapa waktu belakangan, air berubah keruh sehingga tidak bisa digunakan.

Tidak ditemukan kata sepakat antara Aliansi Selamatkan Slamet dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Peserta aksi bertahan di sebelah utara Alun-alun hingga Senin malam dengan mendirikan tenda. Sekitar pukul 22.00 WIB, aparat Kepolisian dan Satpol PP berupaya membubarkan massa. 

Pada saat itulah, menurut kesaksian Agus Wahyudi dan Dian Aprilianingrum (Suara Merdeka), M Wahyu Setiya Putra (Radar Banyumas), Aulia El Hakim (Satelit Pos), dan Darbe Tyas (Metro TV), polisi menghalang-halangi wartawan dengan meminta untuk tidak mendokumentasikan pembubaran massa. Darbe Tyas dipukuli oleh oknum polisi dan Satpol PP, sehingga mengalami luka-luka. Kameranya juga dirampas. 

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah sendiri menyatakan prihatin dan mengutuk aksi kekerasan oleh aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banyumas terhadap para wartawan yang tengah meliput peristiwa aksi Komunitas Selamatkan Slamet di halaman Kantor Bupati ini. (Isi)

BERITA REKOMENDASI