Cegah Politik Praktis, Kemenag Kembalikan Masjid ke Khitah

SEMARANG, KRJOGJA.com – Geger terkait banyak masjid di Jateng yang disimpangkan untuk ajang kampanye pilkada 2018 mendapat resposn serius Kepala Kanwil Kemenag Jateng Drs Farhani SH MM. Dalam wawancara dengan KRjogja.com, Minggu (6/5/2018) malam, Farhani menegaskan, siap untuk mengembalikan masjid kepada khitahnya,  sebagai pusat kegiatan ibadah, perekat dan pemersatu bagi umat Islam.

“Kami segera merespons seruan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng yang meminta masjid tidak untuk kegiatan kampanye politik praktis di tengah arus proses pilkada saat ini,” tegasnya.

Farhani menyampaikan terima kasih atas seruan MUI tersebut, sebagai hal penting untuk. Sebagai tindaklanjut, katanya, Kemenag Jateng segera turut membantu MUI untuk memaksimalkan pembinaan kepada jajaran takmir masjid dan musala di Jateng yang berjumlah sekitar 90 ribu buah.

“Kami punya peran dan fungsi untuk membina masjid-masjid agar operasionalnya sesuai khitah yang ideal yakni menjadi pusat peribadatan dan pusat ukhuwah umat. Jangan sampai disimpangkan ke fungsi yang lain,” tegasnya.

Menurut Farhan, ruh politik praktis sebenarnya mengajak masyarakat untuk berdemokrasi dengan jernih demi kemaslahatan. Namun, praktiknya tercemar oleh tindakan aktor-aktor politik yang melenceng dari karakter akhlakul karimah hingga akhirnya politik menjadi sesuatu yang kotor.

“Jadi, yang kotor sebenarnya bukan ruh politiknya tetapi aktor-aktor yang mengimplementasikan banyak yang tak berakhlakul karimah,” tegasnya.

Untuk itu, lanjutnya, Kemenag Jateng berkewajiban membina masjid agar kembali sebagai pusat peradaban Islam yang menebarkan rahmatan lil alamin, mengembangkan keilmuan agama serta menjadi pemecah solusi berbagai problem keumatan. Masjid juga harus mampu menciptakan suasana aman, nyaman dan perekat umat .

“Fungsi masjid seperti ini yang harus diwujudkan bersama di tengah menipisnya semangat kohesi kebangsaan kita. Untuk itu maka masjid dan musala di Jateng jangan lagi terlibat politik praktis,” tegas Farhani.

Ke depan, lanjut Farhani, dakwah di masjid materinya yang mampu menyemai kesejukan dan kedamaian, bukan memanfaatkan untuk kepentingan politik sehingga berpotensi memicu konflik dan keretakan ukhuwah. 

“Intinya kesucian masjid harus kita jaga dengan kelembutan dan keramahan,” pintanya. (Isi).

BERITA REKOMENDASI