Cerita Sanjoto: Ikut Gerilya di Desa Mento Tewaskan 1 Truk Tentara Gurkha

Editor: Ary B Prass

Dalam perjuangannya yang serba terbatas peralatan, terutama dalam berkomunikasi antar pasukan saat melakukan pengawasan medan tempur, pasukan menggunakan sarana seadanya. Hanya mengandalkan teropong jarak jauh dan batu korek, komunikasi dilakukan dengan kode-kode nyala percikan api.

Untuk menjaga stamina pasukan, kadang hanya berbekal gula jawa dan secuil kelapa.

Dalam tugasnya mengamankan rute gerilya pasukan Jenderal Soedirman, dirinya selalu berada di depan pasukan. Mencarikan rute aman dari perhatian dan cegatan pasukan Belanda. Tak jarang pula melakukan rute tipuan untuk mengecoh pasukan Belanda.
Tugas tersebut menurut Sanjoto tidak lah ringan, mengingat yang diamankan adalah pemimpin perjuangan. Saat itu banyak rakyat yang membantu, namun juga ada pula yang berkhianat dengan menjadi mata-mata Belanda. Karenanya bertugas sebagai pengaman rute harus bisa membaca situasi.
Usai gerilya, Sanjoto bertugas sebagai Polisi Militer pernah terlibat saat konfrontasi dengan Malaysia. Pensiun terakhir berpangkat Kapten CPM bertugas di Pomdam VII (sekarang IV) Diponegoro. (Cha)

BERITA REKOMENDASI