Cerita Sanjoto, Veteran Perang yang Tinggal di Rumah Rusak

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG, KRJOGJA.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo selalu memberikan perhatiannya kepada warganya yang kedapatan dalam kondisi memprihatinkan. Saat masih hangat gaung Peringatan Kemerdekaan RI Ke-75, Ganjar secara tiba-tiba ingat dengan Sanjoto (90) Veteran Perang Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia yang sering bertemu di beberapa upacara peringatan hari besar, termasuk HUT Kemerdekaan RI. Karenanya, Rabu (19/8/2020) pagi Ganjar sempatkan nyepeda mampir di rumah Sanjoto di Jalan Belimbing Raya No 34 Semarang. Sanjoto yang masih mengenakan kaos dan celana training langsung kaget menyambut kedatangan orang nomor satu di Jawa Tengah ini.

Dalam pertemuan, Sanjoto mengisahkan ikut berperang di usia 12 tahun. Pria kelahiran Solo, Nopember 1930 ini bergabung dengan organisasi kepemudaan atau Angkatan Muda Surakarta. “Saat itu saya ikut mengusir penjajah Jepang. Pokoknya ikut saja dan tidak pernah takut mati, terutama saat mendapatkan senjata bekas Kempetai atau Polisi Militer Jepang. Saya membawa senjata Arisaka dan pistol Nambu buatan Jepang. kemana-mana bersama pemuda lainnya saya bawa senjata itu,” ungkap Sanjoto.

Baru setelah merdeka, Sanjoto masuk dalam barisan Badan Keamanan Rakyat (BKR) cikal bakal TNI. Dia mendapat pangkat Letnan Muda, meski tak pernah menyandang pangkatnya di pundak maupun lengan bajunya. Bertugas sebagai pasukan pengawal, Sanjoto pernah mendapatkan perintah mengawal dan menyeberangkan Panglima Besar Jenderal Soedirman saat bergerilya di wilayah Wonogiri hingga masuk Jawa Timur. Gerilya dengan keluar-masuk hutan dilakukan bertahun-tahun saat pendudukan Belanda. Dia memimpin pasukan hingga pernah melakukan peledakan bom yang di jalan yang dilintasi konvoi panser Belanda.

Sanjoto kemudian masuk dalam barisan Corps Polisi Militer dengan pangkat Sersan Satu. Ketika ditanya Ganjar Pranowo kenapa pangkatnya kok jadi Sersan, padahal sebelumnya Letnan Muda. “Saya juga heran, kok diberi pangkat sersan satu mau aja. Komandan saya nakal barangkali. Tapi saya ikhlas menjalankan tugas dan pengabdian. Berulang kali saya juga melakukan pengawalan sampai pada Jenderal Achmad Yani. Saat membentuk Batalyon Banteng Raiders di Bulakamba Tegal pun saya juga ikut terlibat pengawalan. Sampai kedatangan Bung Karno saya juga yang mengawalnya,” kisahnya.

BERITA REKOMENDASI