Debit Terus Turun, Masyarakat Diminta Peduli Ketersedian Air Tanah

SALATIGA, KRJOGJA.com – Direktur PDAM Kota Salatiga Samino menyatakan, masyarakat harus peduli dengan ketahanan stok air yang berada di dalam tanah (alam) yang belakangan mengalami penurunan. Air menjadi kebutuhan pokok makhluk hidup yang paling dasar dan tidak bisa diganti dengan benda lainnya.

“Ketersediaan air tanah menipis, bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita harus peduli dan mulai melakukan gerakan pengembalian air ke alam. Caranya buat sumur resapan untuk memasukan air hujan ke dalam tanah,” tandas Samino kepada awak media saat kunjungan lapangan IUWASH PLUS di di PDAM Salatiga, Senin (19/03/2018).

Penurunan debit air sumber air bersih terjadi hampir disemua daerah, termasuk Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Mata air Senjoyo, Tengaran, Kabupaten Semarang, tahun 1995 lalu debit air mencapai 1.115 liter/detik, namun tahun 2008 debit air turun menjadi 838 liter/detik. Tahun 2014 lalu, saat musim  kemarau debit air menyusut 40 persen.

PDAM Salatiga bekerjasama dengan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thoyibah (SPPQT) dan IUWASH PLUS membuat program konservasi air dengan membangun sumur resapan dan reboisasi di sekitar mata air Senjoyo dan beberapa daerah tangkapan air di lereng Gunung Merbabu yang aliran air tanahnya mengalir ke Sedang Senjoyo.

“Sumur resapan yang telah dibangun sebanyak 854 unit. Saat hujan turun, sumur sebanyak itu mampu menyerap air sebanyak 68,32 liter per detik. PDAM Salatiga saat ini mengelola 145 liter per detik," tandasnya.

Ketua Dewan Pertimbangan SPPQT Bahrudin mengatakan, program pembangunan sumur resapan tidak hanya mengembalikan air ke alam melainkan bisa menjaga tingkat kesuburan tanah. Humus yang terkandung dalam tanah bisa hanyut terbawa aliran arus air hujan. “Dengan sumur resapan air hujan masuk ke tanah dan humus yang larut terbawa air hujan akan masuk ke dalam tanah. Sehingga kesuburan tanah bisa tetap terjaga,” jelas Bahrudin. (Sus)

 

 

BERITA REKOMENDASI