DPRD Jateng Garap Kesenian Tradisional untuk Milenial

Editor: Ivan Aditya

SEMARANG, KRJOGJA.com – Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Yudi Indras Wiendarto mengatakan saat ini terjadi gap antara generasi milenial dengan kesenian tradisional. Banyak anak-anak muda yang tidak paham kesenian tradisional karena memang tidak kenal dengan beberapa kesenian tradisional yang menjadi warisan budaya Jawa.

Yudi Indras mengatakan hal ini saat menjadi narasumber Podcast Parlemen DPRD Jateng dengan tema ‘Minat Generasi Zaman Now Terhadap Kesenian Tradisional’, Selasa (21/09/2021).

Saat ini jumlah generasi milenial di Jateng begitu besar. Generasi ini adalah anak-anak muda yang lahir di tahun 2000-an. Mereka tumbuh di era dimana teknologi informasi sudah berkembang sedemikian cepat. Dan mereka sangat familiar dengan itu.

Sayangnya, seniman atau pelaku kesenian tradisional sedikit terlambat dalam mempromosikan kesenian tradisional pada anak-anak muda lewat teknologi informasi tersebut. Padahal anak-anak muda sangat familiar dengan teknologi informasi seperti medsos.

Yudi Indras Wiendarto mengatakan, kesenian tradisional itu mesti didekatkan pada anak-anak muda zaman now melalui media tersebut. Kesenian mesti dikemas sesuai zamannya. Perihal pakem, tidak masalah tetap jalan. Tapi kemasan kesenian tradisional yang milenial itu akan menjadi jalan masuk memperkenalkan kembali kesenian tradisional pada milenial.

“Kalau tidak ada transformasi kesenian tradisional atau budaya ini pada milenial, dikhawatirkan nantinya akan terputus, sehingga lama kelamaan kesenian tradisional akan hilang,” ujar Yudi.

Yudi menyampaikan, akan sangat berat mengajak anak-anak muda untuk nonton wayang kulit dengan durasi 6 jam dan ceritanya sesuai pakem. Itu terlalu lama dan mungkin sangat membosankan bagi anak muda. Solusinya adalah membuat video-video pendek dan diunggah di Youtube soal wayang. Dikemas lebih singkat dan materinya lebih ringan, yakni disisipi dengan cerita-cerita yang kontekstual akan jadi lebih menarik.

DPRD Jateng juga terus mendorong Pemprov Jateng untuk memperhatikan persoalan transfer ilmu kesenian budaya tradisional dan nilai-nilainya pada generasi muda. Salah satunya melalui dorongan anggaran dan program. Hal itu mau tidak mau mesti dilakukan, karena sektor formal tidak akan bisa menampung anak-anak muda milenial sebanyak itu. Maka dorongan ke arah industri kesenian kreatif terus dilakukan.

Sekretaris Sobokartti Kota Semarang, A Arif Setiawan mengatakan, melihat kondisi tersebut kita tidak bisa menyalahkan generasi muda. Lantaran mereka adalah generasi modern yang familiar dengan teknologi dan disisi lain pelaku seni sangat terbatas yang masuk ke bidang tersebut. Hal itu menjadi salah satu faktor mengapa anak-anak muda tidak sepenuhnya berminat ke arah tersebut.

“Peran pemerintah sangat besar. Pihak swasta dan seniman juga. Seniman harus ajur ajer membimbimbing anak-anak muda. kalau di sektor pendidikan, seni budaya bisa dijadikan kurikulum baru di sekolah, namun yang mengajar harus seorang seniman asli,” ujarnya.

Di sisi lain, Arif Setiawan juga mengakui jika seniman belum maksimal dalam mengeksplorasi kemampuan, yakni kurang atraktif dan kreatif di era digital ini. Hal itu mesti lebih ditingkatkan kedepannya. (Adv/Bdi)

BERITA REKOMENDASI