Ganjar Pranowo Tanggapi Berdirinya Keraton Agung Sejagat

SEMARANG, KRJOGJA.com – Heboh Kerajaan Agung Sejagat ternyata menyita perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar menilai perlu adanya pengujian lebih lanjut secara ilmiah mengenai keberadaan kerajaan tersebut. 

"Syukur-syukur ada perguruan tinggi yang mendampingi. Baik juga untuk didiskusikan," kata Ganjar dalam keterangannya, Senin (13/1/2020) malam. 

Sementara itu, dirinya mengimbau agar keberadaan Pemimpin Keraton Agung Sejagat (KAS) Purworejo ini tidak menjadi keresahan masyarakat. 
"Pemerintah Purworejo harus memayungi langsung masyarakatnya, memberikan perlindungan, meminta klarifikasi sehingga bisa jadi jelas," tandasnya.

Keraton Agung Sejagat (KAS) yang membuat heboh warga Purworejo menganggap bahwa mereka ada karena berakhirnya perjanjian 500 tahun antara Majapahit dan Portugis. Selain itu, keraton yang berlokasi di Desa Pogung Juru Tengah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ini mengaku bahwa Pentagon di Amerika adalah Dewan Keamanan KAS. 

 "Pentagon adalah Dewan Keamanan Keraton Agung Sejagat, bukan milik Amerika," kata pemimpin KAS Toto Santosa Hadiningrat kepada KRJogja.com. Toto yang bergelar Rangkai Mataram Agung Joyokusumo Wangsa Sanjaya itu.

Menurut Toto, Keraton Agung Sejagat memiliki alat kelengkapan yang dibentuk di Eropa, memiliki parlemen dunia yaitu United Nation (UN), International Court of Justice dan Defence Council. 

Menurutnya, keraton didirikan untuk membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan global yang dijalankan Bank Central, memperbaiki kemerosotan sistem kedaulatan, bernegara, pemerintahan, serta pola pikir manusia.

Dijelaskasn oleh Toto, KAS merupakan perwujudan berakhirnya perjanjian 500 tahun yang ditandatangani penguasa terakhir Majapahit Dyah Ranawijaya dengan Portugis di Malaka tahun 1518. Berakhirnya perjanjian itu menandakan selesainya dominasi orang barat dan kembalinya kekuasaan tertinggi kepada pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat.(*) 

BERITA REKOMENDASI