IAIN Salatiga Tambah Tiga Guru Besar

Editor: Agus Sigit

SALATIGA, KRJOGJA.com- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga mengukuhkan tiga guru besar dalam Sidang Senat Terbuka Rabu (2/2) di Gedung Auditorium dan Student Center Kampus III.

Tiga guru besar tersebut adalah Prof Dr Adang Kuswaya, M.Ag. sebagai guru besar bidang Ilmu Tafsir.

Kemudian,  Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum sebagai guru besar bidang Ilmu Sosiologi Islam, dan  Prof. Kastolani, M.Ag., Ph.D. sebagai guru besar bidang Ilmu Sejarah dan Pemikiran Islam.

Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag mengapresiasi kepada ketiga guru besar yang dikukuhkan tersebut.

IAIN Salatiga  terus mendorong produktivitas  sivitas akademika, para dosen dalam menulis karya ilmiah dan disediakan insentif para dosen yang berkarya dalam penulisan karya ilmiah.

Karya ilmiah yang ditulis yang berdampak, bermanfaat, dan dapat dibaca oleh banyak orang yang ada di dunia.

Pengukuhan tiga guru besar ini menunjukkan IAIN Salatiga siap menyongsong era baru, yakni alih bentuk IAIN Salatiga menjadi UIN Salatiga.

“Kami menargetkan paling lambat Mei 2022, IAIN Salatiga berubah status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga,” tandas Zakiyuddin, Rabu (2/2).

Sementara itu, guru besar  Adang Kuswaya dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ‘Konstestasi Muslim Salatiga dalam Konstruksi Budaya Damai; Aplikasi Pendekatan Hermeneutika Sosio-Tematik atas Konsep Hidup Damai dalam Al-Quran’, menyebutkan Islam mengajarkan perdamaian sebagai prinsip hubungan antar umat manusia dengan mengaitkan kata Islam dengan makna perdamaian.

“Setiap manusia yang mendeklarasikan diri sebagai muslim wajib mengejawantahkan perdamaian sebagai prinsip interaksi sosial. Masyarakat Kota Salatiga sudah menerapkan konsep perdamaian terhadap realitas budaya,” ujarnya.

Selanjutnya, Prof. Dr. Benny Ridwan menjelaskan mengenai Role Model Deradikalisasi Kehidupan Beragama di Indonesia.

Ia memandang deradikalisasi sebagai proses yang rumit dan tidak mudah. Radikalisme bukan hanya soal kesalahan ideologi agama, radikalisme menggambarkan fenomena sosial masyarakat yang begitu kompleks.

Penanganannya tidak cukup hanya dengan me-reinterpretasi ayat-ayat suci Al-Quran saja, namun butuh kerja keras semua pihak.

Guru besar Prof. Kastolani menyampaikan orasi ilmiah Menyoal Nalar Islam Memperbaiki Cara Kita Beragama.  Pemaknaan ajaran keagamaan terjadi melalui proses transmisi dan transformasi melalui tafsir-tafsir keagamaan yang diperankan tokoh Islam.

Proses ini pada akhirnya menegaskan ajaran keislaman dalam wujud praktik ditentukan pada bagaimana pemeluknya mengekspresikan keagamaannya.

“Karena Sejatinya apa yang kita lakukan, bergantung apa yang kita pikirkan,” katanya. (Sus)

BERITA REKOMENDASI