Ibu Berperan Penting Diversifikasi Pangan

Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi ketergantungan pada beras Kementan telah merumuskan roadmap diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat non beras 2020-2024. “Indonesia memiliki keragaman hayati sumber karbohidrat non beras seperti ubi, sagu, kentang, talas, singkong dan lain-lain. Sehingga kebijakan Kementan dalam peningkatan penyediaan dan konsumsi pangan sumber karbohidrat alternatif pengganti beras difokuskan pada pengembangan diversifikasi pangan lokal. Semangat dalam mendorong pencapaian diversifikasi pangan lokal ini kemudian terformulasi dalam jargon Kementan “Sehat, Bahagia Dengan Pangan Lokal” ujar Siti Aminah.

Meskipun program diversifikasi konsumsi pangan sudah lama dicanangkan, namun dalam pelaksanaan bukan tanpa kendala. Kebiasaan makan (food habit), keterbatasan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian dalam pengolahan pangan merupakan beberapa faktor penghambat program diversifikasi konsumsi pangan. Konsumsi aneka ragam pangan tidak hanya memberikan kecukupan gizi yang diperlukan sehingga akan diperoleh kondisi kesehatan yang optimal, namun akan sangat membantu masyarakat dalam swasembada pangan.

“Food habit seseorang merupakan refleksi hasil pembelajaran oleh masyarakat kecil (keluarga). Food habit diartikan sebagai tingkah laku seseorang dalam memenuhi kebutuhan makan untuk hidupnya yang meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan bahan makanan. Sikap menolak atau menerima terhadap makanan bersumber dari nilai-nilai sikap yang berasal dari lingkungan di mana seseorang itu berada. Oleh karena itu peran domestik ibu sangat penting dalam membentuk kebiasaan makan putra putrinya bahkan bisa jadi secara perlahan dapat mempengaruhi kebiasaan makan suami atau anggota keluarga lain yang tinggal dalam satu atap” tambah Siti Aminah.

Lebih lanjut menurut Siti Aminah, ibu memiliki peran sentral dalam pembentukan kebiasaan makan keluarga. Dari awal kehidupan di dunia Allah SWT telah menyiapkan makanan khusus untuk bayi berupa ASI hingga usia 2 tahun. Untuk mencukupi dan melengkapi kebutuhan gizinya sejak usia 6 bulan secara bertahap oleh ibu si bayi dikenalkan dengan makanan sesuai dengan umur pertumbuhanya. Di sin peran sangat pending sang Ibu. Menyusui dan memberikan makanan tambahan bagi si bayi merupakan tugas alamiah sangat mulia bagi seorang Ibu yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun.

Ibu dalam rumah tangga merupakan manager yang harus ahli dan menguasai banyak ilmu. Ibu harus menjadi ahli gizi yang mampu mengelola dan mengatur makanan keluarga, mulai penentuan menu masakan, pengadaan makanan, pengolahan dan penyiapan makanan. Menu dan komposisi bahan pada masakan yang diberikan dan disajikan di meja makan selanjutkan akan terekam oleh anak-anak sehingga mampu memberikan wawasan pengetahuan dan sikap yang akan mempengaruhi kebiasaan makan dan terbawa seumur hidup si anak. Inilah peran penting Ibu sebagai pendidik yang tidak hanya mahir dalam mengajarkan membaca, menulis, mengaji, kesantunan, berbudaya, dan lain-lain namun Ibu juga peletak dasar fondasi pendidikan tentang pangan bagi si buah hati. Sehingga akan menjadi pembentuk sikap dan perilaku dalam menentukan pilihan pangan untuk memenuhi hidupnya.

BERITA REKOMENDASI