Jangan Gunakan Masjid untuk Kampanye

SEMARANG, KRJOGJA.com – Memasuki tahun politik seluruh pengelola masjid se Jateng  agar menjaga ukhuwah dengan tak menjadikan masjid sebagai panggung politik atau tempat berkampanye bagi kepentingan politik praktis. Namun, masjid harus menjadi tempat edukasi bagi masyarakat khususnya umat islam agar memiliki kedewasaan dalam berpolitik.

"Saat memasuki tahun-tahun politik ini agar tercipta ketertiban, kedamaian, keadilan, terjaganya persatuan kesatuan serta ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathaniyyah dan ukhwuwah basyariyah sebagai implementasi Islam rahmatan lil alamin," tegas Ketua Dewan Pengurus Pelaksana (DPP) MAJT Dr KH Noor Ahmad MA, kepada pers, di Kompleks MAJT, Sabtu (21/4/2018).

Menurutnya, untuk mewujudkan harapan tersebut MAJT bersama MUI Jateng, Dewan Masjid Indonesia (DMI) beserta Masjid Agung Semarang dan Masjid Raya Baiturrahman akan menyelenggarakan Halaqah Pengelola Masjid se Jateng, Sabtu (28/4) di Hall Perpustakaan MAJT.

“Masjid harus menjadi kekuatan pemersatu yang melindungi semua golongan, suku dan agama. Menerima semua yang hadir dan menjadikannya sebagai keluarga besar agar siapa pun merasa aman, ketentraman dan nyaman. Inilah implememntasi rahmatan lil alamin,” tegas Wakil Ketua Komisi 8 DPR ini.

Ketua DMI Jateng, Drs H Achmad menambahkan, para pengelola masjid agar konsisten menyiarkan Islam dalam kehidupan politik maupun aspek lainnya tanpa terseret pada sentimen keagamaan yang berpotensi memicu panasnya suhu politik dan timbulnya perpecahan umat. Pengelola masjid harus mampu memberi panduan politik cara memilih pemimpin yang sesuai syariat Islam sesuai lingkungannya. (Isi)

BERITA REKOMENDASI