Jateng Butuh Pendekatan Baru Pembangunan Ekonomi

Editor: Agus Sigit

SEMARANG , KRJOGJA.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil Jawa Tengah, Dr Abdul Kholik menegaskan dalam upaya menciptakan keseimbangan dan pemerataan pembangunan di Jawa Tengah, dibutuhkan tiga poros ekonomi sebagai pusat pertumbuhan, yakni kawasan Jateng Utara, Jateng Selatan, dan Jateng Timur.

Pendekatan tiga kewilayahan ini sangat penting, mengingat hingga kini, pembangunan ekonomi di Jateng masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti besarnya beban populasi, ketidakseimbangan antarkawasan, keterbatasan produk unggulan yang berdimenasi jangka panjang hingga tingkat kemiskinan termasuk pengangguran yang masih cukup tinggi.

Penegasan tersebut disampaikan dalam forum diskusi terbatas (FGD) yang digelar di Kantor DPD RI Jawa Tengah, Jalan Imam Bonjol, Semarang, Kamis (27/1/2022).

FGD membahas berbagai temuan DPD RI tentang pengawasan pembangunan yang bertumpu pada pelaksanaan dan hasil capaian pembangunan ekonomi.

FGD dihadiri para narasumber dan pembahas, terdiri para ekonom yang mewakili tiga kawasan yaitu, Lukman Hakim SE MSi PhD dari UNS Surakarta, Dr Rahab SE MSc dari Unsoed Purwokerto, Firmansyah SE MSi PhD dari UNDIP Semarang, dan Direktur Riset INDEF/Dosen FEB UI, Berly Martawardaya SE MSc, serta para wartawan.

Di era pandemi, lanjut Kholik, tantangan tersebut terasa semakin berat, akibat terjadi pembatasan sosial hingga mengakibatkan mobilitas dan produktivitas masyarakat menurun.

Abdul Kholik memaparkan, di era pandemi pertumbuhan ekonomi Jateng mengalami kontraksi tajam pada angka minus 5,91 persen di kuartal II 2020. Kemudian perlahan bergerak ke arah pemulihan hingga menampak kembali. Tercatat hingga kuartal ke III 2021, pertumbuhan ekonomi Jateng pada trend posistif di kisaran 2,56 persen.

Pengalaman pandemi, tambahnya selain sebagai ujian untuk ketahanan perekonomin, juga sebagai kesempatan mengkaji secara komprehensif atas capaian dan problematika yang dihadapi.

“Muaranya dapat menjadi bahan refleksi sekaligus proyeksi ke depan untuk membangun optimisme ekonomi,” tegasnya.

Dalam rangka mengatasi kesenjangan antarkawasan tersebut, perlu diseimbangkan poros ekonomi sebagai pusat pertumbuhan. Selama ini hanya berada di Semarang sebagai representasi kawasan Jateng Utara. Ke depan perlu dibuat dua kawasan lagi yakni poros ekonomi Jateng Selatan berpusat di Purwokerto, dan kawasan Jateng Timur di Soloraya.

Berbasis tiga poros ekonomi ini, tegasnya, diharapkan provinsi ini bakal lebih seimbang dengan penekanan masing masing potensi kawasan.

Kawasan Utara dominanasinya pengembangan industri manufaktur, sementara kawasan Timur perpaduan antara manufaktur dan agro industri, sedangkan kawasan Selatan, fokus pada mengembangkan agro industri dan pariwisata.

Sejalan dengan itu, Kholik mendorong, perpaduan dalam perencanaan pembangunan ekonomi, yang mekanismenya perlu diubah. Musrenbang yang selama ini berbasis kawasan administratif yang lama dengan delapan zona perlu diubah. Sebab model lama ini berpotensi menimbulkan diskonektifitas antardaerah yang memiliki potensi kuat memunculkan diintegrasikan.

Solusinya, musrembang cukup dengan tiga zona, yaitu kawasan utara, Selatan dan Timur dengan penekanan potensi dan arah pengembangan kawasan masing masing.

“Hasil FGD ini akan saya sampaikan kepada Pemprov Jawa Tengah dan kabupaten/kota, sebagai saran dan masukan untuk pembangunan ekonomi Jateng ke depan,” tegasnya kembali. (Isi).

BERITA REKOMENDASI