Jateng Damai, Investasi Guyub-Rukun Berkontribusi Paling Tertinggi

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG, KRJOGJA.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bersyukur atas terciptanya suasana guyub-rukun di provinsi yang dipimpin. Selama 2019 tidak ada gejolak krusial sehingga mempengaruhi kondusivitas yang aman dan nyaman. Kesuksesan ini berpengaruh besar sekaligus sebagai modal mengalirnya investasi di bidang ekonomi serta semakin kecilnya angka kemiskinan.

 

“Saya menilai sebagai prestasi dan kesuksesan luar biasa bagi Jawa Tengah. Kontribusi para ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat besar dalam menjadikan provinsi ini semakin kondusif,” tegasnya pada dialog interaktif Khazanah Ulama-Umaro, live, TVRI Jawa Tengah, Jumat (27/12/2019.

Dialog interaktif sebagai program MUI Jawa Tengah bekerja sama dengan TVRI Jawa Tengah juga menampilkan narasumber Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji Msi, Ketua Pengelola Pelaksana Masjid Agung Jawa Tengah, Prof Dr KH Noor Achmad MA, dari Polda Jateng Drs Muhammad Thoha dengan moderator Choirul Ulil Albab M.Ikom (Host TVRI Jawa Tengah).

Bukti rukun-guyub yang tinggi masyarakat Jateng, antara lain dalam perayaan natal dari Banser yang ikut menjaga keamanan. Ketika perayaan idul fitri, para tokoh agama mendatangi ulama untuk bersilaturahim. Hal ini menumbuhkan interaksi sosial atau relasi kemanusiaan yang luar biasa diantara umat beragama tanpa mencampuradukkan ibadah agamanya masing-masing.

Kemudian selama perhelatan politik seperti pemilu serentak, provinsi ini juga kondusif, tidak ada percikan besar yang berimbas konflik menajam. “Semua dalam koridor yang wajar tanpa meninggalkan rukun-guyub,” tegas Ganjar Pranowo.

Meski begitu, Gubernur tetap akan mewaspadai dinamika politik di 2020 yang bekal digelar 21 pilkada kabupaten-kota se-Jateng. “Saya meminta bantuan para ulama untuk ikut menenangkan suasana hiruk piruyk pilkada. Pemprov bersama aparat keamanan akan memaksimalkan pengamanan termasuk mengantisipasi sekecil apapun percikan politik yang bakal timbul,” tegasnya.

Kiai Darodji menambahkan, masyarakat Jateng patut bersyukur dengan terciptanya suasana kebersamaan rukun-guyub antarumat beragama. Banser menjaga gereja boleh saja, sebab tidak ada larangan. Tidak mencampuradukkan ibadah. Relasi sosial itu bukan ibadah ritual. “Maka dalilnya, Islam yang rahmatan lil alamin bukan Islam rahmatan lil mukminin,” tegasnya.

Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Achmad MA mengatakan, meredupnya isu radikal akhir-akhir ini termasuk di Jawa Tengah hal itu sebagai bentuk kembalinya watak asli bangsa Indonesia. Ditandai masyarakat senantiasa mengedepankan muamalah menuju guyub-rukun. Suasana tersebut tidak hanya terjadi di Jateng saja, tapi terjadi pula di Ambon dan Papua, yang juga interaksi bermuamalahnya tinggi.

Bahkan, potret guyub-rukun masyarakat Jawa Tengah itu yang senantiasa dikembangkan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Desainnya mengupayakan kembalinya marwah jatidiri masyarakat Indonesia yang sebenarnya lewat penyatuan kekuatan ulama-umaro dan komponen masyarakat. “Itulah jatidiri kita yang sebenarnya,” tegasnya.

Tentang isu radikalisme-terorisme yang kini cenderung redup, Prof Noor menegaskan, memang kini isu tersebut tidak lagi terklasifikasi isu berat tetapi harus tetap diwaspadai. Artinya kita tidak boleh lengah.

Nasum dari Polda Jawa Tengah Drs Muhammad Thoha menegaskan, hingga akhir tahun 2019, kondisi kamtibmas di Jateng terasa kondusif. Meski begitu, memasuki pergantian tahun, Polda Jateng sudah menyiapkan pasukan pengamanan dengan mengedepankan langkah persuasif kepada masyarakat.

“Target kita tidak untuk menangkapi siapa saja yang bertindak kriminal namun lebih kepada upaya pencegahan lewat sosialisasi dan pembinaan. Kita datangi para tokoh masyarakat dan tokoh agama agar ikut memberi kontribusi dalam pengamanan menjelang pergantian tahun. Peran ulama dan tokoh agama sungguh besar dalam menciptakan kondisi aman ini,” jelasnya. (Isi).

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI