Jateng Penghasil Tilafia Kualitas Unggul

Editor: Agus Sigit

SEMARANG KRJogja.Com – Dunia perikanan air tawar di Indonesia, khususnya Jawa Tengah tak bisa dipandang sebelah mata. Ternyata Amerika menjadi pasar ekspor terbesar ikan Tilafia atau Nila yang dikembangkan PT Regal Springs Indonesia (RSI) Aquafarm Nusantara berbasis di Semarang.

Beberapa wartawan yang diajak kunjungan ke kolam pembenihan dan pembesaran di Desa Wunut, Kecamatan Janti Kabupaten Klaten, Jumat (21/2/2020), baru yakin bahwa produksi ikan air tawar yang dirintis sejak tahun 1992 di Klaten ini merupakan terbesar kedua setelah yang dikembangkan di Danau Toba Sumatera.

Pembibitan dan pembesaran RSI Aquafarm menurut Community Affairs Senior Manager PT RSI Dian Octavia di Jawa Tengah ada di beberapa titik. Selain Wunut Klaten, juga terdapat di Waduk Gajahmungkur Wonogiri, Waduk Wadaslintang (Wonosobo dan Kebumen), juga di Demak yang menempati kolam-kolam tambak. “Sebetulnya ada lagi di Waduk Kedungombo, namun kami tutup karena debit air ya tidak mencukupi,” ungkap Dian Octavia didampingi Sachib, Pimpinan RSI Aquafarm Nusantara di Kolam Pusat Pembenihan dan Pembesaran Wunut, Janti Klaten.

Pasar terbesar menurut Dian Octavia, ekspor ke Amerika dalam bentuk fillet (daging sayat) dan frozen (beku). Pesaing terbesar menurutnya dari China, namun dari segi kualitas, Tilafia asal Indonesia yang dibudidayakan di Jateng ini menjadi pilihan utama karena bebas kandungan kimia berbahaya.

“Kami tidak pernah menggunakan antibiotik dalam menangani ikan agar sehat dan tak terkena penyakit. Kami kembangkan secara alami. Kalau ada yang sakit, langsung kami pisahkan dan buang supaya tidak menulari lainnya. Makanan juga tidak menggunakan kandungan kimia,” ungkap Kasan Mulyono, Ekternal Affair Senior Manager RSI Aquafarm Nusantara yang ikut mendampingi wartawan.

Kasan Mulyono mengungkapkan, di tahun ini pihaknya mentargetkan memanen Tilafia dari beberapa tempat pembudidayaan di Jateng 6.000 ton per tahun dengan ukuran per ekornya di atas 1 kilogram. Sedangkan data ekspor tahun 2019 ke Amerika, Eropa dan Australia mencapai 1.535 ton dengan nilai mencapai Rp 103 miliar. Untuk pasar dalam negeri terpenuni 3.381 ton.

Menurutnya, pasar lokal kebanyakan tertarik non fillet dengan berat sekitaran 0,3 kg hingga 0,5 kg.

Tilafia yang diekspor menurut Kasan berupa daging. Adapun kulit dan tulangnya juga dimanfaatkan untuk diolah menjadi bahan yang bermanfaat. Termasuk kepalanya pun juga laku dijual di pasaran lokal untuk restoran-restoran Gulai Kepala Ikan.

“Jadi bisnis ikan Tilafia ini tidak meninggalkan limbah. Semua mengandung nilai,” tambah Kasan Mulyono.

Di Amerika, ikan Tilafia ini menduduki rangking kedua jenis yang dikonsumsi, pertama Salmon dan ketiganya Patin. (Cha)

 

BERITA TERKAIT