Jembatan Gantung Dapurno Memprihatinkan

GROBOGAN, KRJOJA.com – Jembatan gantung Desa Dapurno Kecamatan Wirosari Grobogan, kondisinya memprihatinkan. Selain seluruh kerangka yang ada sudah berkarat, juga landasan jembatan dari material kayu banyak yang sudah lapuk dimakan usia. 

Jika dilewati pengendara sepeda motor, terdengar suara khas, yakni klethuk- klethuk. Pada malam hari juga gelap karena di lokasi tidak ada lampu penerangan.

"Karena sudah karat, masyarakat menyebutnya Jembatan Teyeng (karat-Bahasa Jawa). Meski kondisinya mengkhawatirkan dan menakutkan karena membentang di atas Sungai Lusi yang arusnya cukup deras dan dalam, warga tetap melewatinya karena diniali lebih dekat ketika akan bepergian keluar desa,” ujar Kades Dapurno, Ramli, ketika ditemui, Minggu (21/01/2018).

Jembatan dengan panjang sekitar 50 meter dan lebar 2 meter itu dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1912. Itu terlihat pada tulisan yang ada di rangka besi jembatan tersebut. Menurut Ramli, Jembatan Teyeng pernah menjadi primadona masyarakat saat jembatan di Kunden-Kalirejo yang menghubungkan Jalan Raya Wirosari-Randu Blatung Blora runtuh pada tahun 1978-1979. 

"Selama setahun, Jembatan Teyeng menjadi jalur utama  masyarakat di beberapa desa Kecamatan Wirosari yang hendak ke Kradenan ataupun sebaliknya,” tambah Ramli.

Sayangnya, jembatan tersebut sekarang dibiarkan merana. Usaha perbaikan memang sudah pernah dilakukan tetapi hanya sebatas penggantian landasan kayu yang sudah lapuk dan pemasangan baut yang lepas.  "Kami pernah mengajukan perbaikan pada acara Musrenbang Kecamatan. Tetapi sejak zaman Orde Baru hingga sekarang belum pernah ditangani pemerintah," ungkapnya.

Sekarang ini, Jembatan Teyeng dikenal masyarakat luas sejak banyaknya anak muda yang bermain ke jembatan untuk swafoto atau pembuatan foto preweeding. Masyarakat setempat berharap pemerintah memperbaikinya. “Cukup perbaikan landasan dan pengecatan kerangka. Syukur-syukur ditambah pagar di sisi kanan dan kiri agar tidak membahayakan warga yang lewat. Karena selain jembatan cukup panjang, juga Sungai Lusi cukup dalam dan berarus deras,” terang Ramli. (Tas)

 

 

BERITA REKOMENDASI