Jika Prabowo Terpilih, Harga Pangan Menjadi Fokus Kinerjanya

SEMARANG KRJOGJA.com – Calon Presiden RI nomor urut 02, Prabowo Subianto, Jumat (15/2/2019) hadir di Kota Semarang menggelar Pidato Kebangsaan di hadapan sekitar 3 ribu simpatisan dan relawan Prabowo-Sandi. 

Dalam pidatonya, mantan Panglima Kostrad era Presiden Soeharto ini mengungkap  beberapa problema yang sedang dihadapi Indonesia dan negara-negara luar pada umumnya. Krisis energi, sumberdaya alam dan ekonomi masih menjadi sorotannya. Bahkan dalam pengamatannya, sebagaimana disampaikan dalam pidatonya, sumber penyebab peperangan adalah seputar masalah perekonomian. Oleh karena itu, dalam pandangannya Indonesia merupakan negara yang paling kaya dan memiliki segalanya. Karenanya perlu dijaga dan dipertahankan sumber daya tersebut dengan segara daya dan upaya. 

Prabowo bahkan memaparkan komitmennya dalam membangun Indonesia yang antara lain meniadakan kelaparan, menjamin ketersediaan Sumber Daya Energi dan air, membentuk pemerintahan yang hebat, unggul, bebas korupsi dan profesional, dan membentuk angkatan bersenjata yang kuat dan mampu melindungi NKRI. Mantan Jenderal berbintang tiga ini pun mengakui bila kelak terpilih sebagai Presiden RI dalam Pilpres mendatang, tidak sebegitu mudahnya merubah keadaan  terutama membuat semua harga menjadi murah. 

"Upaya itu tidak semudah membalikkan tangan, akan tetapi butuh proses dan kesabaran. Tidak begitu terpilih  dan dilantik, semua harga langsung turun. Kita butuh waktu untuk bekerja 
memulihkan perekonimian," ujar Prabowo Subianto disambut tepuk tangan. 

Prabowo juga menegaskan kehadirannya di sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh  agama tidak pernah meminta dukungan. Baik itu pada kyai, pastur, pendeta maupun habib. Akan tetapi selalu menyampaikan apa yang menjadi pemikirannya untuk Indonesia dan memohon doa restu pada mereka. 

"Kalau saya dipandang pantas, kami mohon restunya. Termasuk kepada para relawan yang ada di 
belakang saya ini. Mereka dari banyak latar belakang dan tak pernah saya tanyakan 
nanti memilih siapa," ungkap Prabowo menunjuk para simpatisan dan pendukung dari kalangan intelektual. 

Pidato Prabowo Subianto berbeda dengan pidato-pidato sebelumnya yang cenderung berapi-api. Kali ini lebih sering menjaga intonasi dan terstruktur. "Kali ini saya tidak berapi-api, nanti suaranya tidak enak didengar di telinga. Pakai mic satu atau dua…., ya kalau gitu dua saja", katanya interaktif memenuhi keinginan massa pendukungnya. 

Menutup pidato kebangsaannya, Prabowo menirukan gaya pidato Bung Tomo usai membakar semangat arek-arek Surabaya dalam Pertempuran Surabaya. Prabowo menutupnya dengan pekik takbir dan merdeka dengan menunjukkan salam dua jari.

"Saya terinspirasi oleh Bung Tomo dalampidato sewaktu menghadapi ancaman dari asing, mereka ingin menggempur Kota Surabaya, beliau jawab 'lebih baik hancur daripada dijajah kembali'. Sebagai seorang muslim, izinkanlah untuk mengumandangkan takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,.. merdeka, merdeka, merdeka, terima kasih, selamat berjuang," tegas Prabowo menggema di Grand Ballroom Hotel PO Semarang. (Cha)

BERITA REKOMENDASI