KAMMI Tak Ingin Jadi Alat Kepentingan

SEMARANG, KRJOGJA.com – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tak ingin menjadi alat kepentingan yang dapat memperkeruh situasi politik negara. Namun justru KAMMI ingin hadir memberikan kontribusi positif untuk ikut membangun negara kesatuan republik Indonesia dalam kemajemukan dan keberagaman.

Hal ini diungkapkan Moh Khanif Nasukha, Ketua Kebijakan Publik KAMMI yang menjadi Ketua Pelaksana Pendidikan Kader Kepemimpinan KAMMI yang digelar mulai Selasa (25/7/2017) hingga Minggu (30/7/2017) di Gedung BLK Karanganyar Jawa Tengah.

Pendidikan Kader berjuluk Dauroh Marhalah III digelar dan diikuti 25 utusan KAMMI dari beberapa daerah dan provinsi se Indonesia bertujuan untuk menyatukan persepsi para kader pimpinan dalam memandang Indonesia secara global. Selain itu juga memahami hal yang sedang terjadi dan mengancam eksistensi Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Pada Kamis (27/7/2017) malam, para kader mendapatkan materi tentang Wawasan Kebangsaan dan Pewaspadaan Nasional dari Perwira Tinggi TNI AD yang juga alumnus Sospol Universitas Gajahmada, Brigjen TNI Drs Nugroho Sulistyo Budi MM.
Nugrohomengupas potensi ancaman yang kini mengincar kedaulatan NKRI.

"Krisis global yang melanda belahan dunia bukan tidak mungkin akan merembet ke Indonesia. tanda-tandanya sudah semakin nyata dengan banyak isu yang ditiupkan yang muncul dari dalam negeri maupun luar negeri. Terorisme, Narkoba dan berkembangnya ideologi radikalisme di negeri ini menjadi ancaman nyata yang kini sedang kita hadapi. Semua ini telah mempengaruhi dan berdampak bagi bangsa ini," ungkap Nugroho Sulistyo Budi.

Oleh karenanya dituntut kewaspadaan seluruh elemen bangsa agar tidak terseret dalam lingkaran design penghancuran.

Adanya pemikiran pembubaran Komando Teritorial seperti Babinsa, Koramil, Kodim, Korem bahkan Kodam juga selalu mengemuka sebagai salah satu design penghancuran negara. Hal ini menurutnya sangat berbahaya, sebab Komando teritorial (Koter) memegang kendali pertahanan wilayah.

"Dengan adanya Koter, maka akan menyulitkan bagi upaya penghancuran kekuatan militer oleh pihak-pihak yang ingin menguasai Indonesia dengan pola invasi," ungkap Nugroho.

Para kader pimpinan KAMMI pun sepakat bahwa Koter perlu ada dan harus dipertahankan untuk mengamankan dan mempertahankan wilayah Indonesia yang sangat luas. Bahkan Ketika Nugroho memberikan mereka kesempatan untuk mengemukakan pendapat, ada diantara peserta pendidikan kader yang menyampaikan bahwa kekuatan TNI dengan Rakyat merupakan kekuatan besar yang senantiasa harus dibina dengan baik dalam rangka mendukung pertahanan NKRI.

Juga tentang ideologi Pancasila, KAMMI tetap komit dan sepakat menjadikannya sebagai ideologi harga mati. Menurut Khanif ada banyak hal yang perlu diluruskan tentang persepsi masyarakat terhadap KAMMI sebagai organisasi Mahasiswa Muslim. Dalam suasana dimana masyarakat saling mencurigai terhadap organisasi Islam yang dipandang anti Pancasila dan mengarah pada radikal, ditegaskannya bahwa KAMMI bukan organisasi atau bagian dari organisasi radikal dan menolah Pancasila.

"Justru melalui pendidikan Kader kepemimpinan ini kami ingin mempertebal pemahaman kami tentang Konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia dan juga situasi terkini yang tengah terjadi. Para kader harus paham sebab mereka nanti yang akan disiapkan menjadi pemimpin masa depan", ungkap Moh Khanif Nasukha dalam siaran persnya.

KAMMI pun sepakat bahwa Indonesia yang dibangun melalui kebersamaan dalam perbedaan harus tetap dipertahankan dan digelorakan. (Cha)

 

BERITA REKOMENDASI