Kampus Ajang Rebutan Dakwah Islam Kelompok Radikal

SEMARANG, KRJOGJA.com – Lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) Universitas Nahdatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta bekerjasama dengan prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip menggelar diskusi publik “Moderatisme Dalam Tantangan” di kampus FIB Undip Tembalang, Selasa lalu (19/3/2019).

Dekan FIB Undip Dr Nurhayati MHum kepada pers di kampus setempat Kamis (21/3/2019) menyatakan diskusi menampilkan pembicara Mh Nurul Huda MSi (Ketua LPPM Unusia), Yasir Alimi PhD (dosen antropologi Unnes), Prof Dr Mudjahirin Thohir (Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama) dan DR Amirudin (Kaprodi Antropologi FIB Undip).

Dr Nurhayati dan Ketua Panitia Drs Mulyo Hadi Purnomo MHum saat membuka acara menyatakan diskusi publik merupakan salah satu bentuk hilirisasi penelitian dalam bidang sosial budaya. Memang hilirisasi penelitian harusnya sampai pada industri tetapi untuk ilmu sosial budaya tidak bisa dipaksakan seperti itu. Domain sosial budaya punya ciri muara sendiri .

"Kita melakukan identifikasi problem di sekitar kita sebagai dampak bidang budaya dan era industri 4.0 yang menyisakan beberapa masalah sosial. Tugas masyarakat akademik bidang sosial budaya diharapkan bisa memberi solusi masalah sosial. Ini juga bentuk hilirisasi penelitian dengan produk berupa kebijakan atau arah untuk mencerdaskan masyarakat. Ini pas untuk menjawab tantangan kekinian” tandas Dr Nurhayati MHum. 

Sementara itu tim LPPM Unusia menyampaikan paparan hasil penelitian mereka terbaru 2019 di 8 kampus di Semarang, Solo, Yogya dan Purwokerto (masing masing kota 2 kampus) tentang persoalan sekitar kegiatan dakwah kelompok mahasiswa Islam di kampus kampus tersebut. 

Salah satu kesimpulannya kampus menjadi ajang perebutan dakwah Islam (lewat kegiatan mahasiswa baik resmi maupun tidak resmi, termasuk masjid kampus, BEM dll) dari beberapa kelompok Islam moderat, liberal, dan kelompok yang cenderung ke arah radikal. 

Pimpinan kampus harus hatu hati dan menata ulang kalau perlu kegiatan kemahasiswaa sehingga kelompok atau paham radikal tidak mengambil tempat di kampus. Kampus harusnya moderat artinya tempat bisa menerima perbedaan serta tidak anti perbedaan. (sgi)

BERITA REKOMENDASI