Khoja’s Ajak Masyarakat Cintai Budaya Semarangan

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG KRJogja.com – KHOJA merupakan sebutan warga Semarang keturunan Gujarat atau India. Beberapa tahun terakhir ini masyarakat keturunan Khoja di Semarang membentuk wadah Komunitas Budaya Khoja Semarang. Tujuannya menggali dan mempopulerkan kembali budaya mereka. Baik berupa kesenian, adat istiadat hingga karya kuliner.

Tokoh Khoja Semarang, Anas Salim yang ditemui di kediamannya Jalan Pesanggrahan Raya Semarang, Selasa (21/1/2020) menyatakan punya gairah baru untuk melestarikan budaya Khoja yang nyaris punah. "Meski tidak bisa langsung secara keseluruhan, kita akan mengawalinya dengan memperkenalkan kembali aneka kuliner khas Khoja Semarang. Nanti akan kita pamerkan di arena Car Free Day Jalan Pahlawan Semarang di awal bulan Februari mendatang," papar Anas Salim.

Anas yang di tahun 1980an dikenal sebagai salah satu aktor PARFI Semarang yang kerap main dengan Farida Pasha sebagai tokoh ulama ini menginventarisir ada banyak budaya yang ada di masyarakat Khoja Semarang. Salah satunya budaya Sameer, yakni permainan musik Melayu India yang disertai tarian-tarian bertujuan mengakrabkan kekeluargaan. Sedangkan budaya yang sampai kini masih dipertahankan adalah Budaya Pengantin Semarangan.

"Bagi warga Khoja yang kini masih banyak yang tinggal di Pekojan, kawasan di Jalan MT Haryono Semarang, setiap ada hajat pernikahan pasti mengenakan pakaian adat Semarangan. Sebab mereka merasa bahwa adat tersebut dipengaruhi oleh budaya Khoja. Oleh karena itu, misi Komunitas Budaya Khoja Semarang ini pun akan mengajak seluruh masyarakat Kota Semarang agar lebih mencintai adat budaya Semarangan. Kami khawatir adat pengantin Semarangan nanti akan lenyap karena tak ada yang melestarikan," papar Anas Salim.

Ketua Umum KHOJA'S, Muhammad Sholeh MD terpisah memaparkan bahwa generasi muda Khoja Semarang sekarang ini mulai sadar untuk mengangkat budaya Khoja yang redup agar eksis kembali. "Ada banyak yang bisa dipelajari, termasuk 'Rumah Kerai' yang merupakan ciri dari rumah keluarga yang memiliki anak remaja perempuan. Di Pekojan (Kampung Khoja) setiap rumah yang memiliki anak remaja perempuan pasti di depan pintu dipasang kerai. Hal tersebut dimaksudkan supaya anak gadisnya tak bisa dipandang dari luar rumah, juga menghindari orang iseng atau jahil terhadap anak gadisnya. Lalu ada lagi budaya arak-arakan pengantin atau anak sunat yang diiringi suara terbangan (semacam kendang/tambur). Semua itu akan kami kenalkan kembali kepada masyarakat sebagai upaya menambah kekayaan wawasan sejarah dan budaya di Kota Semarang," ungkap Muhammad Sholeh MD.

Yang menarik nanti, menurut Sholeh dan Anas adalah Festival Kuliner Khoja, diantaranya akan ada pengenalan makanan yang sangat lezat dan terkenal di kalangan masyarakat Khoja. Antara lain Ketan Punar, Dadar Saos, Pis Tuban, Pis Roti, Kuah Lada, Blekotok, Pacri Terong, Nasi Kebuli Khoja, Acar Poh (semacam manisan mangga), Sagon, Coro, Bika Kentang, Bolu Lapis 50 Telur dan banyak lainnya.

"Kita akan gelar bertahap dan rutin. Baik di Car Free Day maupun dipusatkan di daerah Pekojan Semarang. Pemerintah Kota Semarang mendukung kami karena langkah ini untuk memperkaya potensi wisata yang sekarang sedang dikembangkan di Semarang," pungkas Muhammad Sholeh MD. (Cha)  

 

BERITA REKOMENDASI