Kisah Pejuang Sayuto, Dari Minum Darah Tentara Jepang Hingga Diwaspadai Belanda

Editor: KRjogja/Gus

MESKI telah menguasai Kota Semarang hampir 3,5 tahun, namun tentara penjajah Jepang yang dikenal dengan nama Kidobutai atau Batalyon Kido cukup dibuat miris oleh ulah pemuda pejuang Sayuto dengan kawan-kawannya.

Di akhir pendudukan Jepang, terutama saat menderita kekalahan terhadap Sekutu, mulai Agustus 1945 penguasaan Jepang atas Kota Semarang berangsur melunak karena ultimatum Sekutu. Namun demikian, akibat desakan para pemuda Kota Semarang yang ingin meminta bekal persenjataan Jepang, justru membuat pasukan Kido naik pitam.

Minggu pagi tanggal 14 Oktober 1945 ratusan pemuda telah mengepung markas Kidobutai yang kini jadi markas Yon Arhanud 15 Jatingaleh Semarang. Pemuda yang dipimpin wakil Residen Semarang Wongsonegoro berhasil menemui Mayor Kido, pimpinan Kidobutai. Apapun alasan pemuda meminta senjata Jepang ditolah oleh Mayor Kido. Pertengkaran pun terjadi sampai Mayor Kido menempeleng Wongsonegoro dan membuat pemuda justru naik pitam. Broto Jengkot, salah seorang tokoh pemuda akhirnya mengancam akan membakar markas Kidobutai. Akhirnya Mayor Kido melunak dan menyusun strategi membagikan beberapa puluh senjata dan berhasil diangkut truk yang dibawa pemuda menuju markas pemuda di jalan Bojong (Jl. Pemuda).

Senjata yang diminta pemuda dari Jepang sedianya untuk mempertahankan kemerdekaan dari kedatangan Sekutu yang sudah diendus ditumpangi Belanda yang ingin berkuasa kembali. Namun sayang, pemuda mengetahui senjata yang diberikan adalah dalam kondisi rusak parah dan tak bisa digunakan.

Sejumlah pemuda pun marah dengan membabi buta melakukan pencegatan terhadap orang-orang Jepang yang lewat di jalan-jalan. Mereka yang ditangkap pemuda ada yang dilucuti, dipukuli bahkan ada yang ditusuk bambu runcing. Situasi yang mencekam bagi orang-orang Jepang pun terdengar oleh pasukan Kidobutai. Mereka turun dengan truk menuju kampung-kampung yang terdapat jasad orang Jepang karena korban amuk massa pemuda. Tak sedikit pemuda kampung yang tertangkap dibunuh Jepang dengan cara disembelih dengan samurai. Korban pun bergelimpangan karena jasad pemuda yang sudah tanpa kepala dibuang di sungai-sungai.

Atas kekejian Jepang, seorang pemuda jebolan PETA bernama Sayuto membentuk tim atau regu pemuda yang khusus melakukan aksi balas dendam dengan menyembelih setiap tentara Jepang yang ditemui.

Huri, salah satu ajudan Sayuto yang kini masih hidup berumur 89 tahun menuturkan bahwa kali pertama mendapati Jepang di Gedung Papak dekat Kantor Pos mBerok. "Jepang yang sudah ampun-ampun dan membungkuk langsung ditebas lehernya oleh Sayuto, lalu dihujani bambu runcing. Selanjutnya di gedong kaca depan Kantor Balaikota Semarang sekarang. Jepang yang berada di dalam bangunan langsung dipanggil keluar oleh Sayuto, saat keluar disuruh membungkuk dan dipotong kakinya. Saat menggelepar kemudian ditembak oleh pemuda," ungkap Huri.

Di hari ke-3 pertempuran berkecamuk, hari Selasa (16/10/1945) rombongan Sayuto termasuk ada Huri mendapati 3 Jepang yang ada di penjara Mlaten. Jepang yang diidentifikasi polisi dan sipir penjara tersebut langsung diseret keluar ke gedung budaya Sobokarrti di Jalan dr Cipto. Ketiga Jepang tersebut menurut Huri ditebas lehernya dan darahnya diminum oleh Sayuto. "Saya lihat Sayuto tertawa ngakak dengan perasaan bangga. Dia menyatakan bangga karena bisa membalaskan kebiadaban Jepang terhadap rekan-rekan seperjuangannya," papar Huri.

Tiga jasad tentara Jepang tersebut akhirnya ditanam di halaman bangunan Sobokarrti sebelah Timur dan di atasnya ditanami pohon Kudho. Di tahun 1990an datang utusan dari Jepang yang mengangkat 3 kerangka korban Sayuto dan kemudian kerangkanya dibakar untuk dilarung di Pantai Utara Semarang.

Kebrutalan Sayuto dan regunya inilah yang menjadi salah satu alasan Jepang meminta gencatan senjata. Selain itu Jepang menghentikan pertempuran di hari kelima 18 Oktober 1945 karena telah mengendus rencana serbuan besar-besaran yang telah disiapkan pejuang dari Yogyakarta dan Jawa bagian Selatan dibawah pimpinan Jatikusumo. Pasukan ini telah berada di sekitaran Ungaran dan siap masuk menyerbu.

Hingga penyerahan kekuasaan dari Jepang ke Sekutu, Mayor Kido menitipkan pesan agar Sekutu mewaspadai kelompok Sayuto. Benar, setelah Jepang pulang ke negaranya, Sayuto beserta anak buahnya menyingkir ke daerah Girikusumo Mranggen untuk menghindari kejaran tentara Sekutu yang ditunggangi Belanda.

Menurut Huri, pernah ketika asyik di sekitaran sungai, ditembaki pesawat Cocor Merah Belanda. Beberapa bom diturunkan dan mengenai bangunan pasar kala itu. Sayuto meninggal dunia sekitar 12 tahun lalu dan dimakamkan di TPU Ketileng. (Cha)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI