Mahasiswa Lindungi diri dari Pengaruh Radikalisme

SEMARANG, KRJOGJA.com- Mahasiswa merupakan usia empuk bagi kemungkinan masuknya faham radikalisme dan terorisme. Karena usia mahasiswa identik dengan usia mencari jati dirinya sehingga mahasiswa wajib membentengi dirinya dari kemungkinan ikut kelompok radikalisme.

Salah satu ciri tindakan yang mengarah ke radikalisme di antaranya aktivitas pengajian tertutup yang hanya diikuti beberapa orang saja dan ustadnya hanya satu orang saja. Mahasiswa perlu membentengi diri dari terpapar radikalisme dan terorisme di antaranya dengan mengaji pada ahlinya dan tidak memahami ayat Alquran secara terpotong, harus komprehensif.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Dr H Masrukhi MPd saat berbicara pada Focus Group Discussion (FGD) “Terorisme Ajaran Islam atau Bukan?” yang diselenggarakan di Unimus belum lama ini. FGD kerjasama Unimus-Polda Jateng ini juga menampilkan pembicara lain di antarnya Dr H Rozihan (Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jateng), Muchammad Yulianto Ssos MSi (dosen Fisip Undip), dan Yudi Zulfahri SSTP MSi (mantan teroris) dari Aceh serta moderator AM Jumai (dosen Unimus, Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang dan Ketua Forum Komunikasi Ormas Semarang).

“Pengikut pengajian jenis itu menjadikan manusia yang tidak mau menerima perbedaam, hanya menerima pendapat kelompoknya saja. Padahal Indonesia secara natural plural dengan 18 ribu pulau, 1.300 suku, 6 agama dan ratusan sistem kepercayaan lokal. Indonesia wajib bersyukur karena para pendiri negara mewariskan Pancasila karena Pancasila itu seperti piagam Madinah saat dipimpin rasulullah. Saat itu ada Islam, Nasrani, Yahudi dan berbagai suku di Madinah dilandasi kesepakatan bersama hidup berdampingingan dan membangun Madinah. 

Ahli tata negara menyebut Piagam Madinah sebagai dokumen tertulis demokrasi pertama di dunia sebelum Amerika atau Inggris membuatnya” ujar Prof Marukhi.

Sementara itu menurut Rozihan dan Yulianto, kondisi Indonesia saat pendirian bangsa ini sangat elok dan bagus. Ada 8 tokoh Islam dalam BPUPKI (badan persiapan kemerdekaan Indonesia) dan hanya seorang yang non Islam terlibat dalam pendirian negara Indonesia yaitu AA Maramis. Namun tokoh tokoh Islam yang mayoritas tersebut sangat bijak mau menerima dan mengakomodasi masukan non Islam, khususnya menghilangkan sejumlah kata pada draft Pancasila menjadi sila pertama pada Pancasila seperti yang sekarang ini.

“Teroris menganut pemahaman tunggal atau yang bener satu, dan yang dia yakini. Padahal yang bener itu banyak. Dalam berbagai ayat Alquran Islam itu moderat atau bisa menerima perbedaan, terbuka, adil dan lain seerti di Al Baqarah 143. Terorisme biasanya dimulai dari pemahaman jihad yang keliru padahal harusnya Islam itu moderat seperti di ayat tersebut, juga al Maidah 8, al Mumtahanah 8. At Taubah 41 jihad bisa dengan harta dan yang lain seperti dakwah, tidak hanya perang seperti dipahami kalangan teroris.

Secara eksplisit dan implisit teror dan radikal tidak ada di Quran dan mempelajari Quran harus komprehensif serta ngaji ada ahlihya sehingga tidak memahami ayat secara sepotong potong” ujar Rozihan. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI