MAJT Dikukuhkan Sebagai Pusat Moderasi Beragama Dunia

Editor: Agus Sigit

Pada tataran peradaban agama, MAJT juga diperkaya dengan museum sejarah perkembangan Islam nusantara, di Menara Al-Husna. Museum tersebut menggambarkan kuatnya peradaban yang terbentuk antara menyatunya ajaran Islam yang dibawa Walisongo dengan budaya lokal peninggalan nenek moyang yang eksis di masa itu.

“Cukup mengenali khazanah MAJT yang dibangun di area tanah seluas 10 hektar, maka masyarakat dunia sudah cukup menyaksikan keseluruhan Indonesia yang kental dengan berbagai corak kebhinekaannya. Nilai inilah yang kini menjadikan Indonesia sebagai simbol Islam moderat,” tambah Paulus Tasik Galle yang mengunjungi MAJT kali ke enam dalam program Interfaith dan Intercultural Dialogue.

Sekretaris PP MAJT Drs KH Muhyiddin MAg menegaskan, moderasi beragama ala Indonesia yang dikembangkan MAJT sumber utamanya dari ajaran Islam yang asli yang belum terkontaminasi pengaruh politik dari luar negeri. Moderasi itu sangat penting dilakukan MAJT untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional, Islam tidak identik dengan kekerasan dan diskriminasi, sebaliknya menjunjung tinggi persaudaraan dan kemanusiaan kepada semua umat manusia.

Wakil Sekretaris MAJT Drs KH Istajib AS mengusulkan Kemenag Pusat agar membantu penyempurnaan Museum Sejarah Islam Nusantara yang dimiliki MAJT. Koleksinya masih perlu diperbanyak agar semakin efektif sebagai literasi tentang sejarah Islam di Indonesia.

Korbid Kerja Sama PP MAJT Dr Nanang Nurcholis juga memandang penting keterlibatan Kemenag Pusat dan komunitas Interfaith dan Intercultural Dialogue Dunia dalam memperkuat berbagai kerja sama dengan MAJT dalam konteks posisinya sebagai Pusat Moderasi Beragama Dunia. (Isi)

 

BERITA REKOMENDASI