Masih Pandemi, Anak Pedagang Pasar Weleri Minta Tunda Menempati Pasar Sementara

Editor: Agus Sigit

KENDAL (Krjogja.com), Kesulitan orang tua dalam mencari nafkah setelah pasar yang selama ini menjadi tempat berjualan terbakar durasakan oleh anak-anaknya. Masa pandemi tepat saat pasar terbakar membuat lebih parah lagi. Penghasilan tidak menentu berdampak terhadap perekonomian keluarga. Pedagang banyak yang berjualan di rumah, ada juga yang berdagang dibawah puing pasar yang membahayakan jika suatu saat roboh.

Setahun sudah kondisi seperti ini dirasakan para pedagang dan pasyi berdampak besar terhadap anak-anak mereka. Pasar sementara weleri sudah di bangun dan sudah selesai, namun dua kali roboh dan ini membuat waa-was para pedagang. Lokasinya yang jauh di Terninal Bahurekso Kendal mengharuskan pedagang mengeluarkan biaya untuk pindahan sementara kondisi sulit akibat pandemi, dan tidak lama lagi lebaran.

Kaeena himoitan ekonomi akibat pasar terbakar dan juga pandemi yang tidak kunjung selesai, Forum Anak Pedagang Pasar Weleripun menggelar unjuk rasa. Salah satu tuntutannya adalah meminta tidak segera direkokasi ke pasar sementara weleri 1 karena tudak memiliki biaya. Abdul Wahid salah seorang anak pedagang yang ikut orasi mengatakan biaya untuk pindahan besar, dirinya mewakili orangtuanya mengatakan lebih baik buat kulakan menghadapi lebaran daripada buat pindahan.

“Ini masa sulit di nasa pandemi mencari uang sulit, ada uang pasti dipakai untuk yabg lebih penting, kalau bisa bertahap ayaubsesudah kebaran relokasinua agar bisa untuk modal,”ujar Wahid. Bersama teman-temanya orasi digekar di depan pasar weleri yang terbakar.

Puluhan anak pedagang korban kebakaran Pasar Weleri 1 turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasinya. Dengan membawa poster tuntutan, massa berjalan kaki dari depan Kecamatan Weleri menuju depan Pasar Weleri.
Dalam orasinya, massa meminta ada kejelasan tentang pembangunan pasar weleri yang terbakar setahun silam dan pasar sementara yang layak.

Sementara kordinator aksi Ari Khamir mengatakan ada 8 tuntutan, selain pembangunan pasar di lokasi semula dan kios dan los harus gratis pedagang dibebaskan dari pungutan retribusi, pajak daerah, biaya perpanjangan kartu kuning, hingga sampai 6 bulan setelah kios dan los pasar baru diserahkan.

“Ada penghapusan bunga dan denda hutang pedagang pada Bank Jateng, BPR/BKK Jateng dan bank pemerintah lainnya, serta perpanjangan masa kredit. Hasil uji forensik harus disosialisasikan kepada seluruh pedagang korban kebakaran secara jujur, transparan dan berkeadilan,” lanjutnya.

Ari juga meminta Pemerintah Daerah agar secara tegas memberikan sanksi terhadap aparatunya yang bermain dan berbuat dzalim/tidak adil, melakukan pungutan liar dan pungutan lain kepada pedagang. Pedagang juga meminta kepada aparat berwajib untuk mengawasi dan menindak tegas oknum ASN/Pegawai Pasar dan pihak ketiga yang melakukan korupsi, kolusi, suap selama proses relokasi dan pembangunan kembali Pasar Weleri.
“Yang terpenting.Pemerintah Kabupaten Kendal harus mengikuti sertakan seluruh pedagang korban kebakaran dalam setiap proses perencanaan, penyusunan DED, pembangunan, serta pembagian kios dan los Pasar Weleri,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Weleri Warno mendukung aksi yang dilakukan keluarga pedagang korban kebakaran. “Asalkan tujuannya untuk kebaikan pedagang saya mendukung aksi ini. Yang penting tertib dan tidak melanggar ketertiban yang ada,” ujar Warno

Pedagang sendiri siap jika dipindahkan ke relokasi asalkan bangunan benar benar kuat dan listrik tersedia, oedangan juga minta agar jika harus pindah jangan tergesa-gesa kakau bisa sesudah lebaran tahun 2022.
“Bupati minta Desember pindah tetapi pedagang justru jangan tergesa-gesa kalau bisa setelah lebaran,” lanjutnya. (Ung)

BERITA REKOMENDASI