Mindfulness Sebagai Alternatif Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Editor: Agus Sigit

PEMBELAJARAN jarak jauh memberikan fleksibilitas dalam proses pembelajaran bagi guru dan siswa. Namun, dampak meningkatnya kejenuhan belajar akibat kurangnya interaksi sosial dengan teman sebaya secara langsung juga mampu menyebabkan turunnya motivasi, stress akademik dan tak jarang banyak yang mengalami depresi sebagai akibat tidak mampu mengatasi masalah dengan tepat.

Konselor sekolah berkolaborasi dengan orang tua memiliki peranan penting dalam pendampingan psikologis siswa. Hal tersebut sangat membantu siswa dalam mencapai kesuksesan akademik di sekolah.
Layanan bimbingan dan konseling perlu untuk melakukan inovasi dan adaptasi dengan situasi dan kondisi peserta didik. Intervensi mindfulness dapat diberikan oleh konselor pada siswa maupun orang tua siswa.

Definisi mindfulness merupakan salah satu jenis meditasi yang berfokus pada perhatian saat ini terhadap kondisi sekitar maupun emosional. Berbagai riset membuktikan bahwa mindfulness dapat memiliki efek positif pada kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Praktik mindfulness dapat diberikan konselor sekolah melalui online maupun offline. Bentuk layanannya seperti bimbingan klasikal dalam satu kelas melalui zoom aplication dengan sebelumnya guru melakukan orientasi mindfulness dan dilanjutkan dengan berlatih bersama sehingga jika diterapkan pada kegiatan harian siswa mampu melaksanakan dengan baik.

Dapat pula konselor memberikan informasi terkait mindfulness secara asinkron dengan media booklet, buku panduan mindfulness, pemberian contoh melalui video di youtube maupun tiktok, atau dengan leaflet. Ini sangat membantu konselor sekolah dalam pengenalan dan praktik mindfulness pada siswa. Para konselor sekolah memberikan inovasi dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling di masa pandemi ini.

Dasar praktik mindfulness dapat diberikan misalnya meditasi bernafas. Siswa diajak untuk berkenalan dan berdamai kembali dengan nafas. Para siswa dianjurkan untuk duduk nyaman bersila ataupun duduk dikursi dan boleh memejamkan mata dengan meletakkan tangan kanan di dada dan tangan kiri di perut. Selama ini, banyak individu yang secara tidak sadar menikmati proses bernafas. Konselor sekolah dapat menjelaskan atau memberikan contoh bahwa dengan berlatih menarik nafas dalam-dalam dengan menghirup nafas dan mengeluarkan dengan mulut. Perlu diperhatikan, bahwa dalam proses menikmati tarikan dan hembusan nafas, perlu adanya penerimaan kondisi misalnya rasa mengantuk datang; “oh saya mengantuk” tidak ditolak maupun diabaikan namun diterima. Ketika beberapa pikiran yang masuk maka diusahakan untuk tetap fokus pada perhatian dalam nafas masuk dan nafas keluar. Boleh dilakukan dengan musik relaksasi sehingga semakin fokus dan konsentrasi.

Jika diimplementasikan dalam proses pembelajaran, siswa diharapkan mampu belajar dengan fokus dan perhatian penuh baik saat guru menyampaikan materi maupun saat belajar mandiri. Keunggulan program mindfulness siswa juga mampu berlatih kebersyukuran (gratitude), belas kasih (compassion), pemaafan (forgiveness) dan atribut psikologis yang positif. Selain itu, mindfulness terbukti mampu menurunkan perenungan (ruminasi), depresi, tekanan psikologis maupun kecemasan. Di sekolah siswa yang terlatih mindfulness dapat mengembangkan kesadaran diri yang dimiliki, memiliki kontrol diri yang tinggi, peningkatan penerimaan diri, dan memiliki keterampilan koping yang baik.

Salah satu kegiatan mindfulness dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti saat makan (mindfulness eating) yakni berfokus atau berkonsentrasi dalam kegiatan makan dengan bentuk menikmati hidangan makanan dengan perlahan, berfokus pada teksture, rasa maupun aroma setiap kunyahan. Fenomena yang sering terjadi, makan dengan terburu-buru, makan dengan menonton televisi dan bermain gadget. Sehingga makan tidak dapat dinikmati secara tepat. Dengan berlatih mindfulness secara berbagai teknik misalnya body scan, 3-minutes breathing, menyusun jurnal harian dan juga mindfulness. Konselor perlu secara aktif dalam upaya preventif maupun kuratif dapat menggunakan mindfulness yang diberikan pada siswa dengan berbagai media yang disusun mengingat efek positif mindfulness itu sendiri. **

 

Rohmatus Naini

Penulis adalah mahasiswa S3 Pendidikan Bimbingann dan Konseling Universitas Negeri Semarang (Unnes)

BERITA REKOMENDASI