Nelayan Jepara dan Rembang ‘Panas’, Dewan Jateng Turun Tangan

SEMARANG (KRjogja.com) – Komisi B DPRD Jateng mengkhawatirkan adanya konflik nelayan Jepara dengan nelayan Rembang, terkait dengan penggunaan alat tangkap ikan jaring long atau yang disebut dengan Tuna Long Line (Rawai Tuna). Untuk itu Komisi B akan menfasilitasi untuk mempertemukan dua kelompok nelayan tersebut guna mencari solusi.

Demikian dikatakan anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono Abdullah kepada KRjogja.com di Semarang, Kamis (8/9/2016). Menurut Riono, konflik antar nelayah Jepara dan Rembang ini sudah mulai muncul ke permukaan, sehingga harus segera diselesaikan untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

"Konflik antar nelayan muncul karena nelayan Rembang yang menjaring ikan di perairan Jepara, menggunakan jaring tuna long line yang sudah dimodifikasi, sehingga ikan yang ditangkap oleh nelayan Rembang ini tidak hanya ikan besar saja, tetapi juga ikna-ikan kecil," jelas Riano.

Menurut Riono yang juga selaku sekretaris FPKS DPRD Jateng ini, sebenarnya sesuai dengan kajian balai besar ikan (BBI), jaring Rawai Tuna ini ramah lingkungan dan boleh digunakan. Hanya saja nelayan Rembang dalam menggunakan jaring tersebut telah dimodifikasi. Yang seharusnya jaring Rawai Tuna memiliki mata jaring sembilan inci, tetapi dimodifikasi menjadi tiga inci, sehingga ikan-ikan yang terjaring tidak hanya ikan besar, tetapi juga ikna-ikan kecil.

“Hal itu yang mengundang protes dari nelayan Jepara. Nelayan Jepara menganggap nelayan Rembang tidak mengindahkan kearifan lokal Jepara, karena teah memodifikasi jaring,” tutur Riyono. (Bdi)

 

BERITA REKOMENDASI