Pabrik Baru Sido Muncul Satukan Teknologi Empat Negara

Editor: KRjogja/Gus

SEMARANG (KRjogja.com) – Untuk meningkatkan produksi dan menambah kualitas produk, PT Jamu dan Farmasi Sido Muncul melakukan uji coba pabrik baru cairan obat dalam. Pabrik baru tersebut mampu memproduksi 200 juta sachet tiap bulan. Sedangkan pabrik lama hanya mampu memproduksi 80 juta sachet tiap bulan. Peluncuran dilakukan tepat pada pukul 8 lewat 8 menit 8 detik.

Demikian dikatakan Direktur PT Jamu dan Farmasi Sido Muncul Irwan Hidayat kepada wartawan disela-sela uji coba pabrik baru Senin (23/4). Pabrik baru tersebut juga sukses menyatukan teknologi daru empat negara, yaitu Jerman, Jepang, India dan Indonesia.

“Teknologi dari luar yang digunakan adalah produk Jerman untuk proses mixing, dari Jepang dan India untuk proses pengepakan, termasuk teknologi lokal. Ini baru tahap uji coba, karena peluncuran resminya nanti akan kami lakukan pada akhir Mei 2018. Kami berharap sebelum dilakukan launching pabrik baru, produksinya sudah terlebih dulu laku,” tutur Irwan Hidayat.

Menurut Irwan, dibuatnya pabrik baru untuk produksi cairan obat dalam tujuannya untuk meminimalisir kesalahan pada proses pembuatan produk jamu Sido Muncul. Di pabrik yang baru teknologi yang digunakan lebih modern dan semua sudah menggunakan teknologi komputer (computerized). Dengan teknologi tersebut bahan yang akan dicampur sudah disetting melalui program komputer, sehingga akan dihasilkan zero accident (tanpa kesalahan).

Pada peluncuran pabrik baru COD II, menurut Irwan, sekaligus juga dilakukan trial perdana produk tolak angin cair. Pabrik baru tersebut memang akan dikhususkan untuk memproduksi jamu cair Sido Muncul, seperti tolak angin cair, tolak linu, dan madu kembang Sido Muncul.

“Pabrik baru COD II juga dilengkapi dengan gudang bahan baku dan bahan jadi, ruang pengemasan primer hingga tersier, gudang bahan kemas, ruang pembuatan cairan obat dalam, ruang persiapan bahan baku dan ruang alat-alat utility,” tutur Irwan Hidayat.

Kelebihan pabrik baru tersebut menurut Irwan Hidayat, proses produksi dilakukan secara otomatis karena dilakukan melalui program komputer, sehingga akan menghilangkan faktor human error. Proses produksi dilakukan dengan sistem tertutup, dan semua bahan yang masuk akan dipanaskan terlebih dulu untuk menjaga sterilisasi.

Untuk menjaga proses otomatis dan tertutup, semua alat produksi dilengkapi dengan alat ukur modern yang memiliki ketelitian dapat diandalkan, seperti load cell (alat ukur timbangan), sensor temperatur, tekanan, volume, dan lainnya. Yang paling penting menurut Irwan, teknologi tersebut ramah lingkungan dengan menggunakan sistem pembersih CIP dan SIP. (Bdi)

BERITA REKOMENDASI