Pelatihan Hidroponik Coke Forest: Inisiatif Murah Meriah Memulai Hidup Sehat

SEMARANG, KRJOGJA.com – Jika ada cara sederhana dan murah untuk memulai hidup sehat, maka hidroponik adalah salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk memulainya.

 

Metode tersebut memberi kesempataan seseorang mengonsumsi sayuran berkualitas dari pekarangan sendiri, meski ketersediaan lahan terbatas. “Tak butuh lahan luas dan kita bisa mengontrol sendiri higienitas sayuran yang ditanam,” jelas Abdul Aziz, pegiat lingkungan dari Yayasan Bintari.

 

Tips tersebut Abdul lontarkan dalam sebuah pelatihan hidroponik yang diikuti nasabah bank sampah Desa Randugunting Kabupaten Semarang pada Sabtu, 25 September 2021. Hidroponik adalah metode budidaya tanaman dengan memanfaatkan air sebagai media tanam, sehingga tanaman dapat tumbuh tanpa menggunakan tanah.

 

Bibit yang perlu dipersiapkan untuk metode hidroponik adalah bibit buah atau sayuran, seperti: stroberi, tomat, kangkung, bayam, atau selada. Selanjutnya metode hidroponik juga memerlukan wadah yang dapat dibeli di luar atau dengan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai pengganti netpot dan pipa.

 

“Jenis dan modifikasi hidroponik bermacam-macam, dari sistem deep flow sampai drip atau tetes. Semua bisa disesuaikan dengan kondisi,” jelas Abdul lebih lanjut.

 

Dia mengatakan perawatan tanaman hidroponik mudah dan keuntungannya banyak, karena siklus hidup tanaman lebih pendek sehingga cepat panen dan kualitas sayuran yang dihasilkan juga lebih baik.

 

Pertambahan populasi manusia dan permukiman, serta susutnya lahan terbuka, mendorong minat masyarakat terhadap hidroponik semakin tinggi.

 

Ida Dwi Supriyanti, nasabah bank Kebonan Berseri, mengatakan metode hidroponik mampu menekan pengeluaran bulanan untuk membeli sayuran. Selain berhemat, Ida juga menyatakan rasa bangganya karena dapat mengurangi sampah rumah tangga dengan menggunakan botol-botol plastik bekas sebagai wadah.

 

Kebonan Berseri merupakan satu di antara lima bank sampah binaan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia), Yayasan Bintari, dan Pemerintah Desa Randugunting. Empat bank sampah lain yang turut dibina CCEP Indonesia adalah Wanita Utomo, Maju Jaya, Wijaya Kusuma, dan Maju Makmur.  Jumlah nasabah terus berkembang selama dua tahun terakhir, dari belasan menjadi puluhan orang dan mayoritas dari nasabah tersebut adalah ibu rumah tangga.

 

“Kami mendorong bank sampah tak hanya punya fungsi pelestarian lingkungan, tapi sekaligus mendatangkan manfaatkan ekonomi,” kata Armytanti Hanum Kasmito selaku Regional Corporate Affairs Manager – East CCEP Indonesia.

 

Dia mengatakan butuh upaya kreatif dan kolaboratif dalam penanganan sampah. Selain “tabungan sampah”, pemakaian botol plastik bekas dalam bertanam ala hidroponik merupakan langkah kreatif dalam mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle) sampah.

 

Untuk memaksimalkan jumlah penerima manfaat dan penerapan protokok kesehatan, pelatihan hidroponik digelar selama dua hari di tempat terpisah, yaitu: di Coca-Cola Forest dan di Dusun Krajan. Selain mendapat pengetahuan hidroponik, peserta juga dibekali keterampilan memanfaatkan sampah organik menjadi eco enzyme, yaitu cairan yang diproduksi dari fermentasi sampah organik seperti sisa buah dan sayuran segar, dicampur molase/gula merah alami dan air, dan difermentasikan selama minimal 3 bulan, hingga menghasilkan enzyme dengan beragam manfaat. “Cairan eco enzyme dapat digunakan sebagai disinfektan, merawat perabot rumah tangga, dan bermanfaat untuk kesehatan” jelas Mediana Dessy, pembawa materi dari Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Semarang. (*)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI