Pengawasan Pengelolaan Limbah Di Kawasan Industri Lebih Mudah

Editor: Agus Sigit

SEMARANG, KRJOGJA.com – Kepala Seksi Pencemaran dan Pengendalian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Marnang Haryoto mengatakan pengawasan pengelolaan limbah di kawasan industri lebih mudah dibandingkan dengan industri kecil yang tidak tersentralisasi.

Hal itu diungkapkan Marnang Haryoto pada acara Ngopling (Ngobrol Peduli Lingkungan) yang digelar Aliansi Jurnalis Peduli Lingkungan Indonesia (AJPLI), di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/6).
Adapun Ngoling dengan tema “darurat limbah, selamatkan lingkungan di era Industrialisasi berlangsung setelah diresmikannya kantor perwakilan PPLI (Prasadha Pamunah Limbah industri). Sementara ngopling juga menghadirkan pembicara Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah, Fahmi Bastian, GM perusahaan pengolah limbah B3, PT PPLI Yurnalisdel dan Direktur Utama Kawasan Industri Wijaya Kesuma Ahmad Fauzi Nur.

Kepala Seksi Pencemaran dan Pengendalian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah mengakui potensi limbah bahan berbahaya beracun (B3)di Jateng cukup banyak disumbangkan dari beberapa sektor. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, dari 7 kawasan industri yang ada di Jawa Tengah tercatat limbah B3 yang dihasilkan sebanyak 616 ribu ton per tahun untuk limbah manufaktur, 55 ribu ton limbah agroindustri, limbah pertambangan energy 959 ribu ton, 354 ribu ton limbah jasa, limbah jasa sebanyak 354 ribu ton, dan limbah fasyankes sebanyak 1.000 ton.

“Kemudian dari jumlah usaha kegiatan di sektor manufaktur ada 254 usaha, agroindustri 156 usaha, kemudian dari pertambangan energi ada 56, prasarana 504 usaha, sektor jasa 71 usaha, dari fasyankes 77 usaha. Jadi total kurang lebih ada 1.118 usaha. Itulah potensi yang harus dikelola limbah B3 nya,” jelas Marnang Haryoto.

Disebutkan saat ini ada sebanyak lima perusahaan pengolah limbah B3 di Jawa Tengah. Bersamaan dengan itu semakin banyak perusahaan yang masuk ke Jawa Tengah, seperti ke Brebes, Jepara, Boyolali, dan lainnya. Ditambah lagi dengan meredanya pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan yang dulu berhenti kini kembali beroperasi sehingga dengan begitu otomatis akan menambah jumlah limbah.

Sampai tahun ini, sudah ada sekitar 63 perusahaan yang diawasi dan 4 perusahaan yang ditindaklanjuti sanksi administrasi berkaitan dengan pengelolaan limbahnya.

Melihat peluang dari potensi tersebut, Perusahaan pengolah limbah, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) tertekad memperkuat pasar di Jawa Tengah dengan membuka kantor representatif di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang.

“Potensi pengolah limbah di Jawa Tengah, khususnya di Semarang ini cukup besar, kami masuk ke sini itu untuk peningkatkan market share di Jawa Tengah. Dengan adanya kantor perwakilan di Semarang ini diharapkan bisa double peningkatannya”, jelas General Manager PPLI, Yurnalisdel.

Disebutkan selama ini sudah ada sebanyak 30 perusahaan di Jawa Tengah yang pengolahan limbah B3 sudah ditangani PPLI. Dimana pengolahan limbah tersebut dilakukan di Cileungsi.

“Selama ini limbah dari sini kita bawa ke Cileungsi, kedepan bisa juga kita olah di Lamongan,” tegasnya.

Seperti diketahui, limbah tidak hanya dihasilkan oleh rumah tangga atau perorangan, tapi juga dari industri. Tak jarang, industri menghasilkan limbah dari hasil sisa usaha berupa bahan berbahaya dan beracun atau dikenal sebagai limbah B3.(Cry)

BERITA REKOMENDASI