Peringati Dies Ke-3, FK Unika Fokus Field Lab

Editor: Agus Sigit

SEMARANG, KRJOGJA.com – Fakultas Kedokteran (FK) Unika Soegijapranata Semarang menggelar acara pembukaan dies natalis ke-3 di kampus setempat, Kamis (9/12/2021).

Hadir dalam acara tersebut Dekan FK dr Indra Adi Susianto MSi Med SpOG, Kaprodi FK dr Fransisca Pramesshinta Hardimarta MSi Med, Ketua Dies Natalis FK dr Jonsinar Silalahi MSi Med SpB SpBA dan Programer Field Lab FK Perigrinus H Sebong MPH.

“Kegiatan Dies dibuka awal Desember ini sampai pada puncak acara Dies Februari 2022. Salah satu rangkaian acara Dies adalah Kompetisi field Lab. Mereka bertarung dengan menghadirkan pembicara dari Sydney Australia. Mereka melihat kiprah mahasiswa di masyarakat, mencari permasalahan apa yang ada dan memberi solusi berdasarkan kondisi dan kuktur budaya masyarakat setempat” ujar Dekan.

Lebih lanjut menurutnya, FK Unika berfokus pada daerah Terdepan, Perbatasan,dan Kepulauan. Sehingga mahasiswa dilatih sebagai dokter yang bisa bekerja di daerah-daerah tersebut.

“Tidak hanya menjadi dokter di perkotaan saja tetapi juga kami bekali mereka dengan field lab . Mahasiswa terjun langsung lapangan, lihat situasi dan interaksi serta memberi solusi singkat permasalahan kesehatan di masyarakat dan field lab ini masuk kurikulum FK kami” ujar Dekan.

Senada, Kaprodi FK Unika menyampaikan mahasiswa melakukan field lab di semester 5. Mereka tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi sampai pada melihat permasalahan keluarga atau masyarakat setempat, juga dari sisi kultur. Tiap puskesmas tempat para mahasiswa melakukan field lab punya kultur tersendiri. Dan ini bisa untuk bahan mereka KKN di semester 6 di daerah daerah luar Jawa termasuk di Minahasa Utara.

“Andalan atau keunggulan FK kami adalah program community based education melalui field lab yang bertujuan menyiapkan calon dokter untuk siap bertugas di lapangan terutama di daerah terdepan, perbatasan dan kepulauan. Ini pendidikan berbasis masyarakat, dapat
mempromosikan aspek perilaku sosial kepada mahasiswa kedokteran untuk lebih memahami faktor-faktor non biomedis yang mempengaruhi masalah kesehatan sehari-hari” ujar Kaprodi.

Lebih lanjut menurut Kaprodi, cara tersebut sepenuhnya untuk memahami pengaruh tuntutan sosial pada pasien individu, keluarga mereka, dan masyarakat. Mahasiswa kedokteran harus memiliki kemampuan
sosial-humanistik yang memadai. Prinsip dasar untuk membangun keterampilan sosial-humanistik adalah melalui pembentukan keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang efektif lewat field lab. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI