Peringati Hari Tari Dunia, Pendidikan Sendratasik Unnes Gelar Pentas Tari Virtual

Editor: Agus Sigit

SEMARANG,KRJOGJA.com – Dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia, Jurusan Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar pentas virtual Unnes Menari.

Perayaan Hari Tari Dunia Unnes Menari Tahun 2022 memasuki tahun ke-8 dengan mengusung tema “Nunggal Tekad Hambeksa”. Tema tersebut bermakna menyatukan tekad untuk menari. Dengan menari kita bisa menghilangkan kesedihan, kegelisahan, karena tarian sebagai salah satu budaya seni telah mampu menjadi bahasa yang universal dalam melintasi berbagai rintangan politik, budaya, dan etnisitas yang ada.

Situasi pandemi Covid-19 yang telah melanda hingga lebih dari dua tahun ini tentu menjadi kendala dalam mempertahankan konsistensi dan reputasi yang telah dicapai selama ini. Namun demikian dengan sumberdaya, tekad, dan kreativitas yang ada maka perayaan Hari Tari Dunia tetap terselenggara meskipun dengan format yang berbeda. Ada tiga bentuk kegiatan dalam merayakan Hari Tari Dunia tahun ini yakni workshop seni tari, pentas virtual, dan Tik Tok Challenge Unnes Menari.

Kegiatan pertama Workshop Hybrid “Konservasi Tari Pesisiran” telah terselenggara tanggal 12 April 2022 dengan menghadirkan narasumber Dr Agus Cahyono MHum, salah satu dosen di Jurusan Pendidikan Sendratasik. Kegiatan kedua Pentas Virtual dilaksanakan akhir April 2022.
Pentas virtual ini menampilkan 57 sajian tari dari beberapa negara, yaitu Malaysia, Myanmar, India, Jepang dan sajian tarian dari berbagai sanggar, sekolah, kelompok kesenian tari tradisional maupun modern yang dimiliki oleh para mahasiswa, alumni, maupun masyarakat umum.

Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengapresiasi pentas tari virtual dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia. Dirinya bangga dan mengapresiasi kegiatan mahasiswa jurusan pendidikan Sendratasik. Kegiatan ini sejalan dengan visi Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai Universitas Berwawasan Konservasi dan Bereputasi Internasional.

Prof Fathur menyampaikan, kegiatan ini merupakan salah satu bukti nyata komitmen lembaga dan wujud nyata kreativitas civitas akademika Unnes dalam melestarikan tari.

Prof Fathur menambahkan Seni tari memiliki bahasa yang universal dan mampu menembus sekat-sekat budaya, etnis, hingga politik. Selain itu, tari pun mengajarkan nilai-nilai universal seperti gotong royong, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

“Berbagai nilai dalam seni tari didorong mampu terinternalisasi dalam generasi penerus sebagai upaya mengajarkan karakter dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” pungkasnya.

Dekan Fakultas FBS Unnes, Dr Sri Rejeki Urip mengatakan tari memiliki bahasa yang universal dan bisa menjadi sarana diplomasi yang melepas sekat antar budaya. Kekuatan seni tari mesti dimanfaatkan untuk jiwa dan karakter generasi penerus. Di samping itu, dalam konteks keragaman tari di wilayah Nusantara, beragam tari telah menggambarkan keluhuran yang bisa menjadi bekal bagi masa mendatang.

“Untuk itu, saya selaku Dekan menyambut gembira inisiatif dan penyelenggaraan kegiatan ini. Kegiatan ini secara nyata telah berkontribusi terhadap pelestarian seni, pendidikan seni, sekaligus menguatkan semboyan lembaga yang ada yaitu Arum Luhuring Pawiyatan ing Astanira,” ujarnya. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI