Perlu Digalakkan Inovasi Pangan Fungsional

Editor: Agus Sigit

SEMARANG, KRJOGJA.com – Prodi Gizi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (Fikkes) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar Kuliah Pakar bagi para mahasiswa dan dosen di lingkungan prodi gizi dan Fikkes, Sabtu (11/6/2022).

Kuliah pakar dengan tema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal Dalam Penanganan Penyakit Degeneratif” yang dibuka Dekan Fikkes Dr Ali Rosidi Msi ini menampilkan dua narasumber utama yaitu Dr Nur Rahman STP MSP (dosen Poltekkes Malang) dan Dr Ali Rosidi MSi (Unimus).

Acara yang diselenggarakan secara luring di aula lantai 8 Gedung Kuliah Bersama (GKB) II ini diikuti 500 peserta terdiri dari Mahasiswa Unimus S1 Gizi semester IV, VI, VIII, mahasiswa D3 Gizi semester IV, VI dan nutrisionis, serta dosen dan sivitas akademika.

Narasumber Nur Rahman menyatakan di Indonesia banyak pangan lokal yang bisa untuk mencegah penyakit degeneratif. Namun sayangnya pangan lokal ini belum sepenuhnya dioptimalkan dan dikembangkan oleh masayarakat Indonesia sendiri.

“Di kita hampir menyeluruh di semua tempat di Indonesia banyak pangan lokal yang bisa untuk nencegah penyakit degeneratif. Kita bisa membangun, mengembangkan dan mengoptimalkan bahan pangan lokal kita. Para akademisi bidang gizi-pun sebaiknya makin banyak yang mau meneliti pangan-pangan lokal kita sehingga bisa meningkatkan potensi bahan pangan lokal kita” ujar Nur Rahman.

Sementara itu Ali Rosidi menyampaikan terkait potensi temu lawak dalam pencegahan penyakit degeneratif. Temu lawak merupakan tanaman asli Indonesia yg sudah mendunia sejak lama, abad 15. Sehingga masyarakat harus ikut memperhatikan pengembangan bahan pangan lokal, termasuk temu lawak, dari segi ilmiahnya.

“Sejarahnya temu lawak kita diketahui oleh penjajah Portugis abad 15, lalu dibawa Thomas Syderham ke Eropa untuk obat (herbal fungsional) khususnya untuk obat kolik empedu. Temulawak ini terbukti khasiatnya dan saat itu sudah dimasukkan dalam Buku Farmakope (buku resmi tentang obat obat berkhasiat)” ujar Ali Rosidi.

Menurutnya pula, temu lawak sudah sejak dulu go internasional. Sayangnya masyarakat Indonesia saja yang belum optimal menggunakannya. Bahan makanan Indonesia sangat banyak, ada keanekaragaman makanan namun masih perlu dioptimalkan pemanfataannya maupun pengembangannya secara ilmiah.

“Selain temulawak, krokot juga punya khasiat obat (herbal pangan fungsional). Banyak sekali bahan pangan lokal di sekitar kita yang berkhasiat sebagai obat yang perlu diteliti lebih lanjut “ ujar Ali Rosidi.

Kepala Prodi Gizi Yuliana Noor Setiawati Ulvie SGs MSc dan Ketua Panitia Kuliah Pakar Hersanti Sulistyaningrum SGz MGz menyampaikan salah satu tujuan diadakannya kuliah pakar agar para mahasiswa semakin memiliki pengetahuan yang baik di bidang ilmunya, langsung dari para pakar yang memiliki kompetensi hebat di bidangnya.

“Akademisi gizi harus memiliki gambaran secara jelas mengenai perkembangan pangan lokal termutakhir. Peran penting dalam perkembangan pangan lokal dipikul oleh seluruh komponen masyarakat termasuk para akademisi. Oleh sebab itu, diperlukan banyak penelitian dilakukan para akademisi demi pengembangan pangan lokal” ujar Kaprodi.
Lebih lanjut, mahasiswa calon lulusan gizi harus dibekali ilmu ini untuk memberikan wawasan lebih luas. Sehingga mahasiswa memiliki gambaran secara jelas mengenai perkembangan pangan lokal termutakhir dan terpanggil untuk bisa mengembangkan penelitian berkaitan dengan pangan lokal.

“Dengan megangkat tema pemutakhiran perkembangan pangan lokal Indonesia merupakan salah satu unsur yang sesuai dari visi misi Program Studi Gizi Unimus yakni sebagai Asuhan Gizi berbasis Pangan Lokal” tandas Yuliana Noor Setiawati Ulvie. (Sgi)

Dua nara sumber kuliah pakar (foto sugeng I)

BERITA REKOMENDASI