Perpustakaan Unika Terima Anugerah FPPTI

SEMARANG,KRJOGJA.com – Perpustakaan Unika Soegijapranata meraih Juara Kedua lomba Academic Library Innovation Award (ALIA) 2019 yang diselenggarakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) di Hotel Novotel Bandar Lampung, Lampung, pekan lalu.

Kepala Perpustakaan Unika Soegijapranata Rikarda Ratih Saptaastuti Ssos kepada pers di kampus Unika, Rabu (9/10/2019) menyatakan kompetisi ALIA ini pertama kali diselenggarakan FPPTI sebagai wadah yang menaungi  perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia, dengan tuan rumahnya dari Universitas Negeri Lampung.

Sebelum maju ke tingkat nasional, perpustakaan Unika sempat terpilih menjadi Juara Pertama ALIA 2019 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sehingga terpilih mewakili Provinsi Jawa Tengah maju ke tingkat nasional berkompetisi dengan perguruan tinggi lain yang jumlahnya ribuan. Dalam kompetisi ini perpustakaan Unika Soegijapranata mengangkat tema ‘Shifting The Library Paradigm’, pergeseran paradigma perpustakaan sebagai dampak dari era disruptif.

“Di Era disruptif, perpustakaan harus mampu bertahan dengan melakukan inovasi. Jika tidak,  kita akan tergerus di era disruptif itu sendiri. Inovasi yang dilakukan perpustakaan perguruan tinggi itu bermacam-macam tergantung implementasi perpustakaan di masing-masing perguruan tinggi. Himbauan melakukan inovasi juga sudah menjadi suatu keniscayaan, karena segala sesuatu sudah berhubungan dengan internet dan teknologi, maka memang perpustakaan dalam rangka upaya bertahan kemudian juga dalam upaya mengembangkan layanan yang tidak hanya teknis saja tetapi juga pelayanan yang lebih baik dengan kolaborasi teknologi. Harapannya perpustakaan bisa  menjadi paru-paru perguruan tinggi jika meminjam istilah dari Prof Ridwan Sanjaya selaku Rektor Unika Soegijapranata.  

Sedangkan Inovasi perpustakaan Unika dilakukan dari beberapa aspek, termasuk pengembangan software, pengembangan layanan dan pengembangan peran pustakawan.

“Peran pustakawan misalnya bisa membantu dan berkolaborasi dengan dosen membuat konten  audio visual di ruang SPEDA (Studio Pembelajaran Digital), sehingga materi yang dihasilkan dapat digunakan untuk konten di e-learning atau kursus online, bahkan bisa dimasukkan ke you tube.” Ujar Rikarda. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI