Prajurit Dwikora ini Terkenang Kawan yang Gugur

Soetiman sendiri sudah menguasai kawasan pantai yang telah didarati pasukan amphibi atau Korps Intai Para Amphibi (KIPAM). Pantai yang diamankan rencananya untuk pendaratan pasukan tempur dari kapal perang melalui tank amphibi. Bahkan saat asyik membakar ketela di kawasan pantai, diterima laporan adanya kunjungan Jenderal AH Nasution bersama Laksamana TNI RE Martadinata, saat itu pula Soetiman bersama rekannya bergegas mengamankan sepanjang pantai, meski menggunakan celana kolor.

Kedua pejuang Dwikora ini pun saling bernostalgia atas kebanggaannya mengawal para tokoh yang tidak lain menjadi sasaran G30S/PKI, yakni Jenderal TNI Achmad Yani dan Jenderal TNI AH Nasution. Kala itu Sanjoto memang ditugaskan untuk mengamankan dan mengawal Jenderal TNI Achmad Yani, sedangYohanes Soetiman mengawal kehadiran Jenderal TNI AH Nasution dan Laksamana Raden Eddy Martadinata.

“Perjuangan kala itu sangat berat, kita hidup di hutan, pantai dari rawa-rawa berminggu-minggu tanpa bekal makanan. Apa saja yang kita jumpai asal bisa dimakan ya dimakan. Masing-masing pasukan bergerak masuk memasuki target sasaran. Pasukan KKO bergerak sudah tidak lagi berbentuk prajurit. Sudah seperti rakyat biasa berambut gondrong dan berganti nama sesuai dengan nama-nama yang umum di masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia. Pertempuran-pertempuran kecil sering terjadi dengan pasukan Inggris yang melindungi Malaysia. Tapi kita tidak takut sedikitpun. Banyak kawan yang tak kembali dalam peperangan yang digaungkan oleh Presiden Soekarno kala itu,” kisah Yohanes Soetiman.

Para pejuang Dwikora umumnya sudah berusia kepala 8 alias 80 tahun. Soetiman maupun Soejoto ingin generasi muda memiliki jiwa dan semangat seperti yang dimiliki kaum muda Indonesia kala itu. “Kala itu tidak berpikir keluarga atau apapun yang ada di rumah, mendapat perintah untuk memperjuangkan harga diri negara kita semua langsung berangkat. Seneng mau ikut berperang, meski sampai di tempatnya perjuangannya sangat berat. Kita tidak langsung bisa bertemu musuh, masuk hutan bergerilya kalau tidak waspada kita yang kena,” ungkap Soetiman.

Ketua Markas Daerah LVRI Jateng Kol Inf Purn H Amin Munadjad SIP yang hadir dalam Peringatan Hari Veteran Nasional 2020 tingkat Markas Cabang LVRI Kota Semarang, Rabu (26/8/2020) yang dipimpin Letkol Laut Soejani, mengatakan pentingnya ada pewarisan sikap dan Nilai Kejuangan 45 kepada generasi muda.
“Jiwa kami saat saat itu terbentuk karena penjajahan. Tekanan demi tekanan penjajahan membuat kami untuk berjuang membebaskan negeri ini dari tangan penjajah. Kemudian munculah semangat yang kita kenal Semangat 45. Hal ini perlu kita wariskan karena Veteran merupakan pelaku yang mewakili rasa. Perasaan kita kala itu lah yang harus bisa dirasakan generasi mendatang untuk membentuk karakter dan sikap patriotisme,” ungkap Amin Munadjad.

Mantan Bupati Kudus ini, meminta kepada generasi muda agar jangan mengabaikan sikap-sikap dan jiwa patriotisme.Sebab jiwa patriotisme inilah yang bisa menjadi alarm kita sebagai bangsa dalam menghadapi ancaman dan bahaya. Tidak saja kaitannya dengan serangan musuh atau peperangan, tetapi bisa saja ancaman itu berupa degradasi moral dan kedisiplinan. (Cha)

BERITA REKOMENDASI