Ramadan Sebagai Momentum ‘Hijrah Sensus Numinis’

SEMARANG,KRJOGJA.com –  Sulit dimungkiri kita seringkali memaknai ibadah puasa Ramadan sebatas pada tataran praktis ritualistis formalis. Seluruh kegiatan akan berubah Islamis di berbagai kegiatan masyarakat dan atsmospher kehidupan menjadi sholeh. Berbagai kegiatan spanduk banner, bertajuk sorga bertebaran di mana mana, fenomena spiritualis religious terasa kental.

“Apakah bulan ramadlan hanya sebatas ritualisme simbolik saja? Jika dipermukaan saja, maka benar hadis nabi Muhammad  yaitu banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa apa kecuali lapar dan dahaga. Sesungguhnya seluruh ajaran dan perintah Allah SWT kepada umat-Nya memiliki muatan nilai-nilai filosofis, tidak terkecuali ibadah puasa Ramadan” ujar dosen peradaban Islam dan Arab, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Mamdukh Budiman SS MSi pada sebuah diskusi terbatas di kampus setempat belum lama ini.

Menurutnya, di bulan suci ini fenomena perilaku beragama masyarakat kita secara normatif dan terpisah dari yang umum dari sebuah kebiasaan, belum menawarkan solusi untuk berbagai persoalan bangsa, pendidikan, sosial budaya, dan perekonomian bangsa Indonesia. Terlebih pada masalah perilaku sosial akhlak, berbagai sikap perilaku negatif dilontarkan dengan semangat tinggi celaan, cacian, hinaan, rasisme, belum lagi fenomena perilaku sosial kita. Masih banyaknya perilaku negatif di bulan suci Ramadan  sebagai salah satu indikator ini. 

“Sebuah pertanyaan mendasar, di manakah makna spiritual (rasa kejiwaan rohani dan batin) dan spiritualitas (bagian dari dalam diri individu yang tidak terlihat) yang berkontribusi terhadap keunikan serta dapat menyatu dengan nilai-nilai transcendental dan horisontal (suatu kekuatan yang maha tinggi dengan Tuhan dan Alam Semesta -Sosial) yang memberikan makna, tujuan, dan keterhubungan)  saat ini?”.  Ujar Mamdukh

Lebih lanjut menurut Mamdukh, penting melakukan hijrah sensus numinis ramadhan sebagai kesadaran Ilahiyah. Hijrah ini sebagai penguatan nilai-nilai ilahiyah  melalui wawasan keislaman dari tauhid normatif menjadi tauhid pembebasan untuk kehidupan pribadi, sosial dan keumatan,  menjadi sangat penting. Hal ini bukan berarti sebatas taktik-strategis, melainkan upaya menghadirkan substansi kebenaran yang selama ini belum terpahami. 

Nilai-Nilai hijrah masih jauh di langit bercorak ideologis dogmatis, namun nilai-nilai Islam (Hijrah) masih belum turun ke bumi sepenuhnya, belum membumikan nilai-nilai Islam (Hijrah) pada dataran kongkrit dan aplikatif dan praksis. Artinya nilai-nilai Islam belum mampu diterapkan dan belum menyentuh ke dalam kehidupan pribadi, sosial, masyarakat khususnya kebangsaan, membumikan nilai-nilai Ilahiyah (Habluminnallah) dengan (habluminnas).

 Substansi inilah dari nilai-nilai etis ketuhanan, kemanusiaan, keumatan, dan keadilan, Hubungan hukum antara orang, negara dan dengan keagamaan untuk menerapkan nilai nilai yang positif. Sensus Numinis (Kesadaran Ilahiyah) harus dibangun berdasarkan nilai-nilai perilaku akhlak etika dan sosial. (sgi)

BERITA REKOMENDASI