Ratusan Peternak Burung Salatiga ‘Berkicau’ di DPRD

Editor: Agus Sigit

SALATIGA, KRjogja.com – Ratusan peternak, penggemar dan penangkar burung berkicau di Kota Salatiga berdemo di halaman Kantor DPRD Salatiga, Selasa (14/8). Mereka menolak Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2018 pengganti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Karena Permen ini bisa membatasi jual beli, penangkaran, perlombaan dan terkait burung berkicau.

“Jika Permen diberlakukan maka akan menimbulkan dampak ekonomi masyarakat, khususnya bagi pelaku usaha burung berkicau. Untuk kami itu menolak dengan keras Permen Nomor 20 Tahun 2018 . Bisa mematikan usaha kecil dan peternak burung kicau,”tandas Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Faizin kepada Krjogja.com di depan Gedung DPRD Salatiga, Selasa (14/08/2018).

Mereka juga menyesalkan mengenai isi Permen Nomor 20 Tahun 2018, yang mengungkapkan bahwa ada beberapa jenis burung seperti Murai Batu, Jalak Suren, dan Cicak Ijo punah. Padahal kenyataannya, khususnya di Jawa Tengah tidak punah tetapi malah dikembangkan. Bahkan bisa dijual dan dikirim daerah asal burung tersebut, yakni di Pulau Sumatera. Menurut Faizin, dalam reproduksi alami ketiga jenis burung tersebut di hutan hanya mampu dua kali dalam satu tahun. Tetapi, apabila ditangkarkan dipelihara dengan baik bisa bereproduksi sampai 12 kali. “Dari penangkaran ini, akan mengembangkanbiakan burung tersebut yang dinyatakan punah,” ungkapnya.

Demo yang dilakukan ratusan peternak sekaligus penggemar burun ini tidak berhasil bertemu dengan satu pun anggota DPRD Salatiga berada di tempat. Mereka akhirnya hanya ditemui oleh Kabag Umum Setwan DPRD Salatiga, Siti Nur Sholekah. “Kami mohon maaf, bapak ibu (anggota dewan ) tidak ada di kantor sedang ada tugas di luar kota. Nanti aspirasi ini akan saya sampaikan kepada anggota DPRD,” tandas Siti Nur Sholekah. (Sus)

 

BERITA REKOMENDASI