Roti ‘Ganjel Rel’ Kuliner Legendaris Kota Semarang

Editor: KRjogja/Gus

GANJEL REL merupakan makanan kuno alias tempo dulu khas Kota Semarang. Orang menyebut Ganjel Rel karena makanan kue ini bertekstur keras berwarna coklat kehitam-hitaman. Orang tempo dulu mengidentikkan dengan besi yang digunakan sebagai jalur rel, sehingga disebut Kue atau Roti Ganjel Rel. Ny Sri Lestyowati (94) adalah seorang nenek yang menghabiskan waktunya untuk membuat kue Ganjel Rel. Dia yang asli Semarang dan lahir di tahun 1927 menjadi saksi hidup perjalanan kue Ganjel Rel.

“Dulu ada roti Belanda namanya Taai Taai, mirip sekali dengan Ganjel Rel. Banyak warga masyarakat yang berkeinginan membuat makanan ala Belanda pada waktu itu. Namun sayangnya harga tepung kala itu sangat mahal dan tak terjangkau. Akhirya hanya bisa membuat dengan tepung yang harganya sangat murah alias kualitas bawah. Alat membuat kue kala itu juga sangat sederhana, tak seperti yang digunakan masyarakat Belanda yang serba modern. Gula pun juga tak menggunakan gula pasir, melainkan gula aren atau gula jawa. Akhirnya jadilah kue yang bantet, kasar dan seret bila di makan. Namun herannya, kue yang akhirnya dinamai Ganjel Rel ini justru banyak yang suka sebakai makanan ringan masyarakat kelas bawah,” ujar Sri Lestyowati lulusan MILO, sekolah Belanda setingkat SMP di Semarang, Selasa (18/5/2021).

Sewaktu SMP, Lestowati sering melihat orang menjajakan Ganjel Rel dipanggul keliling kampung. Bahkan banyak juga yang dijajan di pasar-pasar. Bila ada yang membeli baru dipotongin. “Kala itu Ganjel Rel lembaran besar seluas meja tamu. Kalau membawaya dialasi papan dan dipanggul. Saya saat itu tidak suka karena jijik melihat dipanggul dan keliling keluar masuk kampung,” kenang Lestyowati.

Konon dulu sewaktu kecil, Lestyowati sering melihat Ganjel Rel sebagai sajian wajib di tempat orang punya hajatan. Khusunya untuk lek-lekkan atau sajian untuk penabuh gamelan pada hiburan wayang semalam suntuk. Makan Ganjel Rel sambil minumannya kopi.

Karena selalu penasaran, akhirnya Lestyowati mencoba membuatnya sendiri untuk dikonsumsi keluarga. Selain belajar dari membaca resep-resep buku makanan Belanda, Lestyowati juga belajar dari beberapa kawan sekolahnya. Kesimpulannya memang benar, bahwa Ganjel Rel tercipta karena kesalahan membuat alias bantet. Sehingga teksturnya jadi keras dan kasar. Namun ternyata inilah ciri khas Ganjel Rel yang justru melegenda.

Dari tahun ke tahun Lestyowati mencoba membuatnya dengan kualitas tepung yang lebih baik dan ternyata mengurangi kekasaran tekstur sehingga tidak terlalu seret ditelan. Meski demikian penggunaan gula jawa atau gula aren tetap dipertahankannya. Gula Jawa atau Gula Aren dimasaknya hingga menjadi semacam karamel untuk pemanis Ganjel Rel. Supaya tak terlalu bantet (keras) maka digunakanlah sedikit pengembang. Dan agar menarik permukaannya maka diberinya biji wijen.

BERITA REKOMENDASI