Ruwatan Sengkala di Kampung Jawa Sekatul

KENDAL, KRJOGJA.com – Dipercaya bisa membersihkan diri manusia agar terhindar dari berbagai masalah kesialan maupun penyakit atau sengkala, puluhan orang melakukan ritual ruwatan sengkala pada bulan Suro ini di Keraton Kawitan Amartha Bumi Kampung Jawa Sekatul Desa Margosari Kecamatan Limbangan Minggu (24/9/2017).

Prosesi ritual ruwatan diawali dengan doa empat penjuru arah mata angin yang kemudian dilanjutkan dengan doa dari tokoh agama. Setelah menjalani proses doa puluhan peserta ruwat menjalani 'laku' atau kirab dengan berjalan kaki sepanjang lima kilometer menuju sendang bimo suci. Sembari menyanyikan tembang doa, sebanyak tujuh puluh lima peserta terus berjalan menuju sendang bimo suci. Tidak hanya orang dewasa, banyak anak-anak yang ikut dalam prosesi ruwatan ini.

Di sendang bimo suci inilah, seluruh peserta ruwat menjalani penyucian atau pembersihan diri. Peserta ruwatan membasuh seluruh badan agar dosa, penyakit, kesialan, masalah yang ada di dalam hidupnya bisa hilang.

Prosesi ruwatan selanjutnya yakni/ pembersihan lidah, kuku di tangan dan kaki, serta dipotongnya rambut yang dilakukan oleh sesepuh adat Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro Cakrabuana Girinata.

Pembersihan lidah, kuku tangan dan kaki, serta dipotongnya rambut, dimaksudkan agar manusia yang telah dibersihkan dirinya bisa terhindar dari segala dosa, penyakit, masalah dan kesialan, baik itu dari ucapan maupun perbuatan.

Tri utomo salah satu peserta ruwat dari Jakarta mengaku baru pertama kali mengikuti ruwatan bersama dengan keluarganya. Dirinya  berharap setelah di ruwat kehidupannya bisa lebih baik lagi.

”Ini baru pertama kalinya mengikuti ruwatan dan saya sekeluarga ikut ruwatan ini.  ingin menghilangkan sengkala atau kesialan dalam hidup.  melalui ruwatan ini insyaallah gusti allah bisa  menghindarkan kita dari marabahaya, malapetaka.  harapannya setelah diruwat nantinya diberi kelancaran hidup,  kemudahan baik di dunia maupun akherat kelak,” ujar Tri Utomo.

Sementara itu Calista seorang anak peserta ruwatan mengatakan senang dengan ruwatan meski harus berjalan jauh dan kakinya terkena duri.”Saya senang bisa ikut ruwatan. jalannya jauh sampai kaki kena duri kena tapi senang setelah cuci muka di sendang,” ujar Calista.

Sedangkan Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro Cakrabuana Girinata, sesepuh adat mengatakan, ruwatan dilakukan untuk pembersihan diri manusia dari dosa kesalahan kesialan dan terhindar dari marabahaya.

”Tradisi ruwatan ini untuk semua orang yang merasa hidupnya selalu kena sial, sering kena penyakit, masalah dan berbagai macam kesulitan dalam hidupnya. Jadi ruwatan itu adalah tradisi ritual untuk membersihkan diri dari dosa kesalahan dan sebel sial atau marabahayanya. Setelah melalui prosesi bersih diri nanti peserta ruwat akan menyaksikan pagelaran wayang kulit murwakala yang diiringi gamelan asli peninggalan sunan kalijaga. Dan proses yang terakhir adalah jamasan dan larung baju yang dipakai tadi dalam artian membuang sengkalanya,” pungkasnya.(Ung)

BERITA REKOMENDASI