Sentra Industri Konveksi Rowosari Pemalang Lesu

Editor: Ivan Aditya

PEMALANG, KRJOGJA.com – Industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang saat ini kondisinya lesu. Produksi jeans lokal tersebut pamornya mulai redup dengan maraknya produk pabrikan, sehingga permintaan terus menurun. Demikian diungkapkan H Maskuri, seorang pengusaha konveksi di Rowosari, saat menerima kedatangan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Rabu (27/09/2017).

Perusahaan rumahan ini juga mulai mengurangi tenaga kerja terampil yang ada karena produksinya hanya mengandalkan pesanan dari distributor di berbagai daerah. Padahal menurut Maskuri, sentra industri konveksi di Rowosari sempat berada di puncak kejayaan sekitar tahun 2000 hingga 2003. Permintaan pesanan saat itu sangat banyak untuk dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Saat ini di Desa Rowosari tercatat ada 146 pengusaha konveksi dengan serapan tenaga kerja mencapai 1.092 orang. Namun karena produsen tidak mengorganisir diri dan pola penjualan masih konvensional maka hasil yang dicapai tidak maksimal. Hampir semua home industri yang ada mengalami kelesuan.

Menurut Ganjar, Rowosari memiliki potensi besar dibnidang home industri. Di desa yang terletak berbatasan dengan Pekalongan ini terdapat 21 cluster konveksi yang pada tahun 2000an mengalami kejayaan. Industri level desa tapi barangnya sudah menyebar di seluruh Indonesia.

Menurut Ganjar, saat ini era digital di mana penjualan dengan sistem online memegang peranan penting dalam laju perdagangan. Ganjar berharap industri di Rowosari bisa membuat website, bergabung di toko online, atau memanfaatkan Sadewa Mart yang dikelola Pemprov Jateng. Dia berharap agar produsen konveksi di Rowosari lebih melek teknologi sehingga rantai penjualannya lebih efektif dan efisien.

Bukan hanya di bidang marketing saja, Ganjar juga meminta produsen lebih kreatif. Jika selama ini hanya membuat celana jeans, perusahaan perlu melakukan diversifikasi produk. "Mereka bisa membuat sarung, tas, atau barang lain berbahan jeans," tutur Ganjar Pranowo.

Sedangkan untuk peningkatan produksi diperlukan peremajaan alat kerja dan sokongan modal. Untuk permodalan perusahaan bisa menjalin kerjasama dengan lembaga perbankan seperti Bank Jateng melalui program Mitra Jateng. Kredit Mitra 25 milik Bank Jateng berbunga lunak dan tanpa agunan, sehingga cukup ramah untuk pengusaha. (Bdi)

BERITA REKOMENDASI